BALI, Surga Ciptaan

oleh Michelle Chin

Dalam sepuluh tahun terakhir pulau ini telah ditulis, difilmkan, dipotret, dan disebarluaskan, yang seakan-akan mengarah kepada rasa kebenaran atas kemuakan. Saya pergi ke sana dengan setengah-terpaksa, karena saya mengharapkan adanya "bali-hoo" (sensasi akan Bali yang tidak bisa dinyatakan tapi hanya bisa dirasakan) yang lengkap, gambaran yang menarik, dan menyerupai standar Hollywood; saya tinggal di sana (seutuhnya) dengan sangat terpaksa, sekedar untuk meyakinkan bahwa saya hampir menyentuh yang paling dekat dengan Utopia yang pernah saya lihat (Geoffrey Gorer, Bali and Angkor, Or Looking at Life and Death, 1936: 42-43).

Mengapa Bali begitu mempesona? (Apakah Bali benar-benar sangat mempesona?) Apakah Bali memang dahulunya sebuah surga, atau, apakah itu surga yang diciptakan untuk kebutuhan pariwisata asing (dan domestik)? Isu ini telah dibahas dengan sangat detail dalam buku-buku seperti Adrian Vickers Bali, A Paradise Created (Periplus Editions, 1989) dan Timothy Lindsey’s The Romance of K’tut Tantri and Indonesia (Oxford University Press, 1997).

Jika Bali memang sebuah surga yang diciptakan, yang mana lebih baik dilihat dari dunia film, termasuk Hollywood, di mana di tempat-tempat inilah mimpi-mimpi seakan menjadi kenyataan. Jika kita melihat sekilas cerita tentang Bali dari film-film Barat yang dibuat sekitar tahun 1920-an, 1930-an dan 1950-an, suatu gambaran yang muncul adalah konsep mengenai Bali sebagai surga yang diciptakan dalam abad 20.

Beberapa tahun yang lalu pulau kecil yang terpencil ini hanya menjadi berita bagi sebagian orang Barat yang sudah dianggap tidak produktif di negaranya (55 tahun ke atas), melalui sebuah rangkaian film dokumenter tentang Bali dengan sebuah penekanan kuat pada daya tarik seks. Film ini merupakan suatu pernyataan yang dibeberkan secara terbuka dan, sekarang, semua orang mengetahui bahwa gadis-gadis Bali mempunyai tubuh indah dan para pemimpin di pulau itu membuat image akan Bali seperti acara musical-comedy hidup yang penuh dengan upacara, gambaran indah yang terkesan liar namun eksotis. Judul salah satu film ini, Goona-Goona, istilah orang Bali untuk "magis", yang menjadi daya tarik seks bagi newyorkese. Pemberian istilah baru akan pulau Bali sebagai "last paradise" menjadi pengganti pada jaman kini untuk abad 19 akan konsepsi romantis pulau Bali yang utopis primitif, hingga kemudian terjadinya monopoli Tahiti yang eksklusif dan pulau-pulau lain di laut selatan menggantikan pulau Bali. Dan belakangan ini para agen travel menggunakan nama Bali sebagai daya pikat untuk menarik sekumpulan wisatawan untuk kebutuhan round-the-world mereka, di mana mereka menjelajah satu hari dan berhenti di sebuah pulau. (Miguel Covarrubias, Island of Bali, 1937)

Kenyataannya, para turis yang diorganisir secara baik datang ke Bali hanya berlangsung di tahun 1920-an. Hingga tahun 1930 pengunjung yang datang mencapai seratus orang setiap bulannya dan kebanyakan melalui laut. Laporan yang menggembirakan menurut mereka pada saat itu menjadi hal yang sangat positif di tahun 1940-an, sehingga jumlah ini meningkat sekitar 250 orang per bulan, belum termasuk para penumpang dari berbagai kapal penjelajah yang mempromosikan jadwal satu atau dua hari di Bali sebagai acara penting ketika musim dingin melanda dunia Barat.

Jalur kapal uap Belanda, K.P.M., yang pertama kali berinisiatif mengaktifkan jalur wisatawan ke Bali sebagai kapal barang dan memaparkan beberapa karakter (promosi) tentang Bali, dengan cepat meraih keuntungan dari pengembangan ini. Seorang Persian-Armenian, M.J. Minas, menjadi orang pertama yang menyadari potensi wisata ini. Ia memperkenalkan Bali melalui sebuah film yang bercerita tentang kampung-kampung di Bali, di mana ia berkeliling hanya dengan membawa portable projector, dan ia meluncurkan film itu untuk pertama kali di sebuah gedung bioskop di Buleleng. Minas memulai usahanya sebagai tourism guide para penumpang dari kapal K.P.M sekitar tahun 1920. Seorang petualang asal Amerika, Andre Roosevelt, tiba di Bali tahun 1924 dan bergabung dengan Minas, di mana mereka tergabung di bawah lindungan American Exspress dan Thomas Cook. Andre Roosevelt menjalankan usahanya tahun 1920-an untuk mengembangkan pasar wisatawan, walaupun tidak menghalangi keinginan dia untuk tetap memelihara integritas budaya Bali dan masyarakatnya.

Di waktu luang yang ada, saya dan sahabat saya, Spies, memulai sebuah pengamatan dan rencana yang bertujuan untuk memperlambat “penyerbuan” kekuatan Barat dan tetap mempertahankan kebahagiaan orang Bali pada dirinya sendiri, untuk perjalanan beberapa dekade ke depan. Kami ingin tetap mempertahankan Bali menjadi sebuah Taman Nasional atau Internasional, dengan aturan-aturan khusus untuk mempertahankannya (in Hickman Powell, The Last Paradise, 1930: xiv-xvi).

Bali Dalam Film-Film Era Tahun 1920-an dan 1930-an
Goona-Goona hampir bisa dipastikan sebuah film yang lahir dari inspirasi Ketut Tantri, pengarang Pemberontakan dalam Surga (Revolt in Paradise), dan kemudian lebih dikenal sebagai penggugat Surabaya (Surabaya Sue), yang pergi mengelilingi Bali di tahun 1932:

Pada suatu sore hari saat hujan rintik-rintik, sambil berjalan turun sepanjang Hollywood Boulevard, saya berhenti di depan sebuah gedung teater kecil yang memutar film asing dan, secara mendadak, saya memutuskan untuk masuk. Film asing tersebut berjudul Bali, The Last Paradise. Saya menjadi terpesona. Sebuah film yang mempertunjukkan contoh sebuah kehidupan penduduk yang cinta damai, penuh rasa syukur, cinta dan keindahan. Ya, saya telah menemukan hidupku. Saya menyadari telah menemukan tempat di mana yang ku inginkan (K'Tut Tantri, Revolt in Paradise, 1960).

Film tersebut sangat sukses dan berhasil membujuk orang-orang Amerika supaya tertarik akan pulau Bali. Istilah Goona-Goona dalam masyarakat kelas atas New York, Melayu dan Jawa menjadi sebuah istilah akan cinta magis, berubah menjadi ungkapan populer. Goona-Goona dapat diartikan sebagai penghubung antara seks dan magis dalam gambaran Bali yang populer.

 

Bali Dalam Film Tahun 1950-an
Gambaran pulau Bali pada tahun 1920-an dan 1930-an adalah sebuah pulau tempat pelarian bangsa Amerika dan Eropa, dari nilai-nilai Barat akan sebuah kehidupan spiritual yang mendalam dan kekayaan dunia. Dalam paska perang, Bali merupakan salah satu tempat yang memberi perasaan tenang akibat traumatik perang dunia. Di era ini berkembang minat untuk memperbaiki hubungan dan rasa ketertarikan bangsa Barat kepada dunia Timur dan Pasifik, seperti yang ditampilkan dalam film Broadway, The King and I, dan film The Southest Pacific yang memperoleh ketenaran besar, sejak pertama kali diluncurkan pada layar. Versi tahun 1950-an akan tempat yang ideal ini sangat berbeda jauh dari kenyataannya di tahun 1930-an. Broadway dan Hollywood memproduksi gambar hidup yang mencoba untuk menangkap kembali dunia yang hilang sebelum jaman perang. Dalam pembuatan ini, mereka benar-benar menciptakan sesuatu yang belum pernah ada.

Di Hollywood sebelum era perang, para Indies dihormati sebagi salah satu bagian dari pantai laut selatan, dan hampir sebagian besar diingat sebagai tempat yang menggambarkan kehidupan  para Gorilla besar, King Kong, yang sekaligus menjadi nama sebuah film. Di tahun 1930-an, kebudayaan dan seni primitif menjadi primadona akan dunia ilmu sains dan pengetahuan populer diminati, di mana dalam bidang seni nama Picasso dan istilah Surrealis menjadi terkenal seperti halnya penari Josephine Baker. Salah satu daya tarik primitif ini adalah penekanan pada sisi seksualitas dan aspek magis Bali. Sepanjang tahun 1950-an, Hollywood berusaha menggantikan mereka dengan gagasan idyllic.

Pada tahun 1952, sutradara dari Paramount Pictures, Harry Tugend, dan bintang film Bob Hope dan Bing Crosby meluncurkan film The road to Bali. Film tersebut menyajikan perpaduan antara budaya Asia Tenggara dan Asia Pacific. Di dalam balutan rasa humor, film ini juga menampilkan sisi liar Asia seperti kanibal, binatang buas dan monster laut, di mana hal yang serupa digambarkan oleh Humphrey Bogart dan Katharine Hepburn dalam film The African Queen. Berdasarkan alur cerita, Hope dan Crosby melarikan dari sepasang gadis-gadis yang yang terobsesi akan pernikahan yang mengejar mereka. Mereka lalu melarikan diri ke ‘pulau laut selatan’ Australia (Bali), di mana di pulau itu mereka berjumpa dengan Dorothy Lamour yang berperan sebagai putri cantik dan di pulau itu mereka berpetualang mencari harta karun. Dalam film ini Lamour didandani dengan berbagai kain sarung yang terkenal dari Thailand, India dan sebagian daerah di Asia.

Pada tahun 1958, sutradara Joshua Logan dari Twentieth Century Fox, membuat film The South Pacific yang tidak memaparkan sama sekali kehidupan pulau Bali di era tahun 1930-an, tetapi secara keseluruhan meminjam gambaran pulau Bali. Dari film inilah lahir film 'Bali Hai'. Ketika kita  mencari-cari gambaran pulau dalam film The South Pacific dengan potret kehidupan yang seperti itu, maka nama bali akan hadir dalam setiap penonton. Walaupun dalam film tersebut perihal fakta-fakta geografis tentang pulau Bali dirubah, demikian pula nama dan kesenian tradisional dipalsukan oleh pihak Hollywood, masyarakat tidak resah dan tetap mengenal Bali sebagai surga di antara surga dengan kombinasi semua ideal dari laut selatan ke setiap orang.

Bali "TEMPTATION" / BALI YANG MENGGODA, Pameran Seni Rupa Kontemporer Seniman Bali di Galeri Langgeng, Juni 2004

Apa yang menarik dari lima belas seniman yang berpartisipasi dalam pameran di Galeri Langgeng pada bulan Juni 2004? Bagaimana cara seniman-seniman ini mengatasi ke “Balian” mereka? Apakah mereka menyadari mereka dilahirkan di "surga" atau pulau kelahiran mereka dapat diartikan "Pulau Dewata"? Pentingkah identitas ke-Bali-an mereka? Pentingkah kelompok seni bagi mereka? Karena terbatasnya waktu, hal ini tidak mengijinkan saya untuk bertemu dengan masing-masing seniman secara satu-persatu. Meskipun demikian, saya akan mengemukakan beberapa pendapat dan pertanyaan, dan kemudian saya mempersilakan waktu bagi para seniman Bali untuk berbicara secara terus-terang dan biarlah sesama orang Bali mendengarnya! Karena mereka membenci diskusi seni secara umum, orang Bali dikenal buruk di kalangan seniman (sedikitnya untuk kalangan seniman di Yogya). Akibatnya kelompok orang Bali dicap sebagai bukan orang “Balinya Indonesia” dan menjadi orang asing di negerinya sendiri, sejak dulu kala. Saya berharap bahwa akan ada orang Bali yang menulis tentang seniman Bali dan keasyikan mereka, atau sebagai alternatif, kita berhenti membicarakan seniman Bali sebagai kelompok dan melihat mereka sebagai individu yang di tempatkan dalam gambaran besar seni di Indonesia dan internasional. Betapapun, kita sering membaca sekitar perkembangan seni kontemporer di Yogyakarta, atau para seniman yang belajar di Bandung, namun kita juga tidak sering membaca "seniman Jawa" atau "seniman Sumatera" dalam terminologi yang lebih umum.

Lima belas seniman yang berpartisipasi dalam pameran ini, dua belas di antaranya belajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Tiga orang seniman yang lain adalah Made Supena (lulusan Program Studi Seni Rupa dan Desain, Universitas Udayana, Denpasar), Ketut Susena (sempat belajar di STSI Denpasar) dan Dewa Putu Mokoh (belajar seni secara tradisional ala orang Bali. Ia belajar melukis gaya wayang dari dua orang pamannya, I Gusti Ketut Kobot dan I Gusti Made Baret, sebelum pada akhirnya ia mengembangkan gaya lukisannya sendiri yang bercorak kontemporer).

Delapan seniman sekarang ini tinggal di Bali dan tujuh orang tinggal di Yogya, walaupun belakangan ini ada tujuh orang seniman yang mondar-mandir antara Bali dan Yogya secara teratur. Dalam beberapa hal, kelompok seniman yang berpartisipasi dalam pameran ini menyatakan diri mereka melalui karya-karyanya, baik yang bergaya Yogya-Centric maupun lifestyle Bali-Centric atau pendekatan umum ke seni. Dengan jelas, seniman yang belajar secara akademis di Yogya atau Bali, telah dipengaruhi oleh praktek-praktek dan trend yang erat kaitannya dengan seni kontemporer Indonesia.

Terlepas dari pertanyaan apakah Bali sebuah surga atau bukan, atau apakah seniman atau orang lain yang terpesona oleh gagasan Bali, lebih memungkinkan jika kita berasumsi bahwa kelima belas seniman tersebut menaruh perhatian mereka akan isu-isu besar dalam kehidupan: Tuhan, Alam, Manusia. Kita juga mesti berhati-hati dalam menarik asumsi bahwa para seniman ini sedang berpikir tentang hubungan mereka dengan Tuhan (or some greater power), alam atau lingkungan, dan hubungan harmonis mereka dengan masyarakat - seperti yang diimpikan oleh setiap manusia akan kehidupan bermasyarakat yang ideal, terlepas dari mereka orang Bali atau bukan. Seniman Bali asyik dengan berbagai isu tentang kehidupan sehari-hari, termasuk seks dan cinta, upacara keagamaan, pertunjukan dan permainan, alam, sosial dan masyarakat, ekonomi dan politik, kematian, bencana dan penyakit - sama halnya dengan keberadaan kita. Kegaiban Tuhan, keindahan alam, kejelekan manusia - semua isu-isu ini menjadi topik utama dan tema-tema yang nampak dalam karya seni mereka.

Karya dua seniman dalam pameran ini berhubungan dengan isu-isu seks dan cinta. Terutama Dewa Putu Mokoh (1934) yang terkenal sekali akan lukisan seksualitas yang humoris, cinta dan nama julukan atau "tricksy hands" - sebuah tangan muncul menekan puting susu gadis atau tangan nakal yang dengan tenang dan dengan cepat melepaskan kain gadis ketika tidur, di mana sang gadis tak acuh akan pribadi laki-laki yang sedang menikmati kecantikannya. Setelah lukisan Neo-Traditional Ubud dan gaya Pengosekan sampai sekitar 1989, Mokoh, kemudian mengembangkan gaya pribadinya setelah berkolaborasi dengan seorang teman seniman Italia, Mondo. Dewa Putu Mokoh terpesona dengan kehidupan sehari-hari: kelahiran bayi, cinta, seks, permainan anak-anak, upacara keagamaan, berita yang ia lihat di televisi – semuanya itu menjadi materi  dalam lukisannya. Walaupun subyek utama lukisannya sering dilukiskan secara sederhana, seperti anak-anak, namun lukisannya diciptakan dalam metode yang memakan waktu yang dipelajarinya sejak kecil. Ketika ia belajar dari pamannya Kobot dan Bret: pertama-tama ia harus membuat sket dengan pensil, kemudian menerapkan garis dengan tinta, dan, barulah kemudian pada akhirnya ia menggunakan berbagai warna.

Satu-Satunya pematung yang ambil bagian dalam pameran ini adalah Gusti Made Wirta yang memfokuskan dirinya pada isu seksualitas dan percintaan untuk beberapa tahun terakhir ini. Ia telah menghasilkan satu rangkaian karya yang diciptakannya tentang Phallus dengan gaya realis dan abstrak.

Nyoman Erawan (1958) seorang pelukis sekaligus seniman instalasi dan performance art, telah menciptakan beberapa "art performance extravaganzas". Karya-karya lukisannya yang cerdik sering menyertakan motif tradisional Arsitektur Bali, tekstil dan image akan “ritual garbage” – di mana sisi ini memberi kesan yang menggigit dan memaparkan satu  potongan penyelesaian paska ritual upacara religius orang Bali. “Dokumen” Erawan tentang orang Bali dan dunia di sekitarnya, mungkin ingin menyampaikan keinginan Erawan akan pendekatannya ke dunia seni. Subject matter-nya menciptakan gambaran berlawanan dan kesan pribadinya akan Bali sebagai pertunjukan publik dengan perhiasan-perhiasaan suci dan tempat suci keagamaan yang ditampung di ruang sekular; simbol dan motif tradisional yang dilukiskan dengan material modern. Erawan mendaur ulang dan mendokumentasikan kesenian tradisional Bali dalam ruang dan waktu jaman modern. Dari semua seniman dalam pameran ini, barangkali karya Nyoman Erawan lah yang betul-betul masih mempertahankan sudut pandang ke-Bali-annya , melalui ke-Bali-an yang kita lihat dari simbol keagamaan, objek ritual, atau seniman yang memiliki wajah (ke Bali-an).

Made Budhiana (1959) telah lama dikenal dengan gaya abstrak ekspresionisnya (atau, menurut Dr. Oei Hong Djien: "semi abstrak ekspressionisme"). Budhiana merupakan figur penting dalam kancah seni rupa Indonesia sejak pertengahan 1980-an. Dia dua kali menerima penghargaan Pratisara Affandi Adhi Karya dari ISI Yogyakarta tahun 1985 dan 1986. Gaya lukisannya telah mempengaruhi banyak seniman dari generasi yang lebih muda di Yogya dan Bali, antara lain Made Sukadana, Entang Wiharso, Nyoman Sukari, Made Sumadiyasa dan Putu Sutawijaya, meskipun selanjutnya mereka mengembangkan gayanya masing-masing.

Budhiana melukis berdasarkan naluri, seperti anak kecil, tidak rational dan konseptual. Ia juga mengungkapkan apapun dalam dirinya. Ia sering mencerminkan alam sekitar dan lingkungannya ketika ia dalam studio dan sedang dikepung oleh para teman, sambil  mendengarkan musik tertentu, atau berjalan-jalan keluar rumah. Budhiana bereaksi terhadap gejala alam, angin, awan, kondisi cuaca, pegunungan, karang, samudra dan pantai, matahari, bintang, bulan dan sebagainya secara alami, di mana pun ia berada.

Ia sering melukis di luar rumah atau dalam ruang sesak penuh dengan orang berdesak-desakan, seperti di pasar, pantai, jalan kota besar atau di kuil. Dalam karya lukisnya, ia sering mengisi seluruh ruang kanvasnya dan hanya menyisakan sedikit ruang yang tidak disentuh. Ia dengan berani menciptakan ruang negatif melalui penggunaan warna putih. Karya-karya Budhiana secara tertulis pada umumnya jarang menyusun atau mempertunjukkan ketrampilan tinggi dalam pemasukan atau aplikasi hal ruang negatif. Semua karyanya mencerminkan suasana hati dan perasaan secara spontan, kekuatan garis yang tiba-tiba tanpa keraguan, dan kombinasi dari warna murni, tak bercampur. Karya dia seperti "liar tapi rapi"- liar dan penuh dengan pertimbangan waktu.

Seniman yang dipengaruhi oleh gaya abstrak ekspresionisme Made Budhiana adalah Nyoman Sukari (1968) yang sejak awal 1990-an telah menunjukkan kekuatan dan imajinasinya yang "liar" melalui karya-karya  lukisannya  yang berhubungan dengan mitologi seperti Barong, Rangda, ular naga, para prajurit dan pahlawan. Lukisannya pencurahan gaib, ekspresif di atas kain kanvas, menciptakan sapuan kuas dan nada sebagian besar gelap.

Secara teknis lukisan-lukisan Sukari mirip dengan Djoko Pekik. Lukisan dalam kanvasnya menggunakan palet dan penerapan melukis dengan cat minyak di kanvas menggunakan metoda wet-on-wet, sebuah teknik melukis dari Cina. Umumnya ia hanya menggunakan beberapa warna dasar: hitam, merah, biru. Ia terkadang menggunakan tiga warna secara serentak dan mencampurnya di atas palet. Ia menggoreskan kuas secara langsung ke kain kanvas sehingga ke tiga warna tersebut “berlari” secara serempak dalam sekali goresan. Campuran dilaksanakan sekali di atas goresan yang sama atau dua kali selagi minyak masih basah. Ia juga mengijinkan sebagian dari minyak untuk menetes sepanjang kain kanvas, menciptakan variasi tekstur karyanya secara keseluruhan. Pencampuran warna dan efek tetes yang lincah tersebut menghasilkan karya seni yang mengagumkan. Dengan teknik ini Sukari bisa menciptakan lapisan warna yang seolah-olah berangsur sembuh pada masing-masing goresan. Ada irama, pergerakan dan goresan yang ringan tetapi tidak transparanpada waktu yang bersamaan.

Dengan menggunakan teknik wet-on-wet, sebuah lukisan dapat diselesaikan dengan cepat sebab tidak usah menunggu untuk mengeringkan lapisan minyak sebelum goresan berikutnya diterapkan. Bagaimanapun, haruslah dicatat bahwa dengan teknik ini - dalam kombinasi memerlukan ungkapan ekspresi dan emosi secara spontan - yang mungkin tidak terjadi pada lukisan yang sederhana. Pada waktu itu, seniman harus menolak atau membuang lukisannya dan memulai lagi, setelah segar, pada sebuah potongan kain kanvas. Hal itu disebabkan karena metode lukisan ini meninggalkan sedikit ruang untuk kesalahan dan tidak ada ruang untuk pengoreksian. Ketika menggunakan teknik wet-on-wet, seniman harus mengadopsi pendekatan “tidak ada tempat untuk kesalahan” (go-for-broke).

Beberapa seniman lain yang mengambil bagian dalam pameran ini menunjukkan pilihan lukisan gaya abstrak ekspresionis. Misalnya dalam lukisan Made Sukadana (1966) yang diciptakannya baru-baru ini pada awal 1990-an, dan lukisan Sukari-Esque yang memisahkannya dari lukisan ekspresionis lainnya, dalam kurun waktu yang sama dengan Sukadana. Pada waktu yang bersamaan Sukadana sering memakai subject matter yang diilhami dari wayang Jawa dan Mitologi Bali. Putu Sutawijaya (1971) tertarik akan musik, tarian, pergerakan, meditasi, perenungan. Karakter lukisannya terletak pada  garisnya yang kuat dan goresannya yang spontan; figur yang dilukisnya atau "yang digambar"nya sesuai dengan gerakan berirama dan warna minimalis. Dengan figur manusia laki-perempuan yang sedang bergerak-menari, terbang, mengapung - atau jika tidak sepenuhnya, masih dalam pose tenang merenung. Made Sumadiyasa (1971) menggunakan teknik lukisan serupa dengan Nyoman Sukari. Sumadiyasa terkenal akan gayanya yang khas atas karya-karyanya yang abstrak expressionism, dan baru-baru ini ia memasukkan unsur-unsur simbol yang melambangkan sesuatu misalnya seperti binatang, dalam lukisannya.

Made Mahendra Mangku (1972) juga kategori seniman yang mempertunjukkan gaya abstrak expressionis. Penggunaan warnanya yang lembut menyampaikan sebuah atmosfir dari kenyataan dirinya yang tidak suka merenung. Dari satu keteduhan bagi yang lain, ia pelan-pelan mengubah bentuk warna kebalikannya. Nuansa warna yang diterapkannya dalam kebanyakan lukisannya menciptakan rasa tenang rohaniah. Mahendra Mangku mencampur-aduk dan bereksplorasi dengan warna. Ia menggunakan hasil eksperimennya sebagai alat-alat untuk menyatakan status jiwa-nya. Walapun terkadang ia menggunakan simbol-simbol dalam lukisannya, ia mampu mengerjakannya dengan caranya yang khas dan indah. Ia menyatakan bagian terdalam dari dirinya melalui penggunaan warna-warna yang magis.

Made Supena (1970) seorang seniman Bali yang lain, trampil dalam penggunaan warna. Ia biasanya menerapkan rombongan warna yang kuat, warna yang luas tak bercampur, yang digoreskan di kain kanvas dan kemudian menambahkan perumpamaan dan isyarat yang diringkaskan. Hal-hal inilah yang menjadi bagian ekspresif dari lukisan Supena. Demi kebutuhan sudut pandangnya yang abstrak akan alam semesta, ia menemukan inspirasi lukisannya dalam keindahan alam, yang kesemuanya itu, ia periksa dengan teliti apakah itu daratan, laut atau langit. Ia menyatakan bahwa ia tidak mencoba untuk membuat alam semesta menjadi abstrak, tetapi ia sedang berusaha untuk menyatakan apa yang ia rasakan tentang alam. Ketut Susena (1969) menciptakan lukisan tentang alam secara abstrak dengan penggunaan warna yang mencolok, saling bertabrakan. Pegunungan, danau, arus bawah tanah, hutan, karang, langit dan laut dilukiskan dengan bidang warna yang besar dan goresan kuas yang kuat, secara serempak menciptakan sebuah perasaan mimpi dan bersihkan kesadaran akan keindahan alam. Tidak semua keindahan dalam "surga" diciptakan oleh Susena - ia juga sering melukis bidang dan bukit yang dibabat secara tidak syah. Karena datang dari daerah barat Bali, ia dengan sangat sadar mengetahui potensi akan bahaya lingkungan. Ia dengan optimis berharap akan ada penanaman baru dan pertumbuhan baru di masa mendatang.

Beberapa seniman yang lebih muda tergabung dalam pameran ini menunjukkan pilihan gaya abstrak figuratif telah menjadi populer di Yogyakarta sejak gaya lukisan inovatif Nyoman Masriadi tampil di depan umum. Wayan Sudarna Putra (1976) telah belajar teknik lukisan Neo-Traditional Ubud di Bali sebelum melanjutkan studinya di ISI Yogyakarta. Lukisan figuratifnya di era 1990-an dan awal 2000-an diilhami oleh gaya Masriadi, tetapi baru-baru ini ia telah mengembangkan gaya lukisan photo-realis hitam dan putih, yang sering memusatkan pada berbagai gambaran batang tubuh manusia yang ditunjukkan dalam profil dari leher ke paha. Made Aswino Aji (1977) juga melukis gaya abstrak figuratif dengan subject matter sisi psikologis manusia atas tekanan negara, paranoia, ketakutan, trauma dan teror. Keberaniannya menggunakan warna mengakibatkan lukisannya menjadi menarik. Made Suarimbawa ‘Dalbo’ (1977) membuat rangkaian lukisan yang menceritakan tentang kasta/suku bangsa di Bali demi kepentingan wisuda pameran Tugas Akhir ISI Yogyakarta. Lukisannya berkesan abstrak dibanding figuratif, tetapi biasanya ada bentuk manusia atau sedikitnya bagian dari bentuk manusia, yang disimpangkan dalam karyanya. Warna-warnanya cenderung panas dan sederhana, dengan aplikasi warna merah, hitam, biru, putih dan kuning.

Wayan Danu (lahir 1972) telah menciptakan gaya miliknya sendiri menghadapi tantangan sebagai seniman, para guru dan pecinta karya seni yang sering bertanya "what is a paintings?" ceramah  dosennya di ISI Yogyakarta yang seperti menggagalkan lukisannya, bisa digolongkan seperti "lukisan". Dapatkah lukisannya diuraikan seperti karya semi-instalasi? Atau, seperti seorang seniman (Palembang/sarjana ISI) baru-baru ini bertanya, "Berapa banyak dimensi lukisan-lukisan Wayan Danu ada di sana - 2 atau 3?" (We finally settled 2.5). Subject matter dari karya-karya Danu sering dianggap "menakutkan", tetapi tema sesungguhnya mengambil isu-isu sehari-hari tentang kekuasaan, ketamakan, nafsu, kemarahan, ketidakjujuran, korupsi, ketidakpuasan dengan pemerintah - ini adalah isu-isu variasi kebun yang umum pada masa itu. Kita semua harus berhadapan dengan permasalahan ini pada basis kehidupan sehari-hari. Jika lukisan-lukisan Danu dilihat "menakutkan", ini berarti kehidupan sehari-hari dunia modern juga "menakutkan". Tetapi kehadiran permasalahan ini tidak berarti bahwa kita perlu ke dalam lingkaran bola, bersembunyi di pojok atau menghindari tatapan isu ini. Betapapun, tak seorangpun cukup beruntung jika hanya tinggal di surga.

[translated by A. Anzieb]

* the original text in English was published in exhibition catalogue Bali Temptation, exhibition held at Galeri Langgeng, Magelang, June 2004