Menemukan Gambaran Besar Tentang Seni Rupa Kontemporer Asia Tenggara

oleh Michelle Chin

Sejak Marjorie Chu kali pertamanya membuka sebuah galeri seni rupa di Singapura pada tahun 1971, dia berharap galerinya bisa sebagai jembatan atau mata rantai antara seniman, kolektor dan pecinta seni. Dia membuka Raya Gallery di Cuscaden House Hotel (sekarang Hotel Bulevard), dan ketika hotel direnovasi bentuknya dia memindahkan Raya Gallery sebagai Specialists’ Centre. Kemudian, galerinya dinamai kembali Art Forum pada tahun 1980, sejak proses perjalanan. Di tahun 1989 Art Forum Pte Ltd menampung pikiran-pikiran yang searah - tahun 1920-an di mana sebuah teras rumah dengan canggih diubah menjadi sebuah ruang pameran. Pada lantai bagian atas rumah tingkat dua ini ada sebuah ruang kantor dan stock room. Koleksi karya seninya didisplay sebagai basis perputaran.

Sebelum dia membuka galeri pertamanya, Marjorie memiliki sebuah karier menarik selama sepuluh tahun sebagai seorang akuntan. Terlepas dari pekerjaannya yang full-time, dia menikah dan mempunyai dua anak. Dia sangat tertarik akan seni rupa, maka setiap ada penyelenggaraan pameran di Singapura dia selalu menghadiri, St. Andrew’s Mission Hospital Charity pameran yang diorganisir oleh Dr. Ear Lu. Dalam rangka memahami seni rupa secara umum, dia sering mengunjungi Singapore Art Museum, dan Dr. Ear Lu sebagai penolong dalam memperkenalkannya lukisan Cina di extra-mural ceramah kuliah yang diorganisir oleh University of Singapore. Marjorie juga menghadiri sebuah kursus mengenai lukisan kontemporer di London yang mengajarnya bagaimana cara membaca sebuah lukisan. Dia mulai dengan mengoleksi patungnya Ng Eng Teng, lukisannya Lee Man Fong dan Thomas Yeo.

Sejak Marjorie memutuskan meninggalkan profesinya sebagai seorang akuntan, dia ingin mendirikan sebuah bisnis yang mengijinkannya untuk menggunakan lebih waktunya dengan keluarga. Karena Marjorie seorang akuntan, sehingga dia cnderung berpikir pragmatis. Pertama, ia memutuskan untuk mendirikan bisnisnya sendiri, dia menyimpulkan bahwa sebuah galeri seni rupa paling sedikit memerlukan modal sebab dia bisa mengambil dari hasil penjualan karya. Kedua, dia harus menyadari pula bahwa dia masih dini; galeri sebagai mata pencaharian bisnis. Seandainya tak ada seorangpun yang membeli lukisan, dia menyiapkan kebiasaan menyusun sebuah side-business. Marjorie berpikir jika dia menaruh investasinya ke dalam cetakan yang bisa dia serahkan tiga kali dalam setahun, kemudian dia bisa menyerahkan stock-nya lebih cepat jika dia menaruh semua dari investasinya ke dalam lukisan. Dia mengira dengan tepat bahwa hal itu tidak akan mungkin dapat menyiapkan investasinya dalam sebuah lukisan dengan cepat. Jika dia ada keberuntungan, mungkin dia akan menjual lukisan pada hari berikutnya atau barangkali dia akan menyimpannya selama sepuluh tahun atau lebih, seperti telah terjadi pada banyak kasus karya yang dikoleksi biasa dibingkai dalam sebuah bisnis, juga membuktikan cara untuk menjadi yang baik pada klien baru. Ketika mereka datang ke galeri, mereka akan melihat karya dan akan sering membelinya.

Setelah pembukaan galerinya, Marjorie sangat aktif menghadiri pameran di Singapura. Dia mengakui adanya Alfa Gallery menunjukkannya jalan kepada seniman avant garde dari setiap waktu. Dia menjumpai banyak seniman di Alfa Gallery, Goh Beng Kwan, Khoo Sui Ho, Thomas Yeo, Anthony Poon dan Choy Weng Yang. Sepanjang tahun 1970-an, dia membeli banyak lukisan di sana, termasuk karya-karyanya Khoo Sui Ho dan Goh Beng Kwan, dan pertama dia melihat karya seniman Malaysia Latiff Mohidin di Alfa Gallery.

Sejak Marjorie melihat lukisan para Singapore Pioneer Artists dan para mahasiswa, mereka telah menemukan inspirasi baru pada perjalanan mereka ke Indonesia dan Malaysia, dia menyadari bahwa orang-orang di Singapura yang dia maksud menjadi bagian dari Asia Tenggara. Pada waktu itu, dan kini Marjorie sangat digairahkan oleh pembentukan Negara ASEAN. Ada perdagangan bebas dan gerak bebas antara negara-negara ini, seperti halnya merasa ada sebuah kesetiakawanan antar negara tetangga. Hingga sekarang, dia berpikir tentang ASEAN terhadap lima negara sebagai anggota pendiri - Indonesia, Malaysia, Thailand, Philipina dan Singapura. Marjorie memutuskan bahwa dia perlu membuat tiap-tiap usaha kemungkinannya dapat untuk melihat semua seni rupa di lima negara dan, mengapa koleksinya sangat fokus pada seni rupa kontemporer ASEAN. Walaupun sekarang dia juga mempunyai sebuah koleksi model seni rupa kontemporer dari India, Australia dan Jepang, namun karya-karya ini tidak membentuk pada fokus koleksinya.

Marjorie mengatakan, "Sepanjang tahun 1970-an, saya menyadari bahwa saya melebihi dari seorang Singapura, saya adalah bagian dari Asia Tenggara, maka saya mengikuti jalan kecil dari Seniman Pelopor dan pergi ke negara-negara ASEAN untuk melihat diri sendiri. Dalam pencarian saya untuk seniman di negara-negara Asia Tenggara, saya menggunakan teknik persisnya sama yang telah saya gunakan di Singapura: saya pergi ke museum, pameran, perguruan tinggi seni, dan saya menggunakan banyak waktu untuk bertemu dan berbicara dengan banyak seniman lokal." Dia juga mulai merindukan hubungannya dengan art dealer, terutama Arturo Luz di Philipina dan Hendra Hadiprana di Jakarta, keduanya adalah penasehat penting untuk galeri-galeri yang masih muda.

Marjorie mencari tiap karya-karya seniman yang menarik. Kemudian, ketika mungkin dia membeli banyak dari karya mereka, atau mengambil beberapa karya yang dijual. "Saya tidak punya agenda tertentu atau ingin mendaftar. Saya bersandar pada yang wah! dan intuisi. Ini telah terbukti sukses. Tentang keuangan saya cukup lancar dan saya mengaturnya untuk perpanjangan sewa buat galeri. Bagaimanapun, saya mempertimbangkan bahwa sukses riil saya berada dalam jaringan art dealer dan seluruh seniman Asia Tenggara," dia mengatakan.

Setelah beberapa tahun banyak mengoleksi karya seni, Marjorie menyadari bahwa koleksinya itu merupakan dokumen penting sehingga orang lain boleh jadi mampu memahami arti dan ruang lingkupnya. Dia memulai dengan mencoba untuk menjelaskan karya ke keluarganya sendiri, dan teks untuk buku ini benar-benar dimulai dalam wujud sebuah surat kepada putrinya Audrey. Karena Marjorie mengetahui semua karya seniman telah dia koleksi, dia mengetahui bahwa dia bisa meneliti dan menjelaskan karya mereka. Bagaimanapun juga, ketika dia hendak memulai untuk menulis, dia menemukan kendala kalau dia tidak bisa mengetik secara cepat, maka dia mencoba memakai jenis perangkat lunak lain yang akan (menurut dugaan) mengetik kata-kata ketika dia berbicara. Metoda ini juga membuktikan kegagalannya: nampak perangkat lunak seperti itu tidak bisa mengenali semua kata-kata, terutama seperti ada istilah Indonesia, Thailand, orang Philipina, orang Malaysia dan nama-nama Cina, seperti halnya banyak terminology lain; seperti ikat, batik dan hilangnya penampakan lilin dalam tulisan. Marjorie juga menemukan bahwa dia tidak bisa sesederhana merekam teks ke dalam sebuah alat perekam dan kemudian memiliki penjelasan berupa teks tulisan. Kapan saja dia mendengarkan apa yang telah dia rekam, dia akan menghapusnya semua.

Secepatnya Marjorie memutuskan bahwa satu-satunya metoda mungkin boleh jadi untuk mendikte ke seseorang dengan kontak mata, seolah-olah dia sedang memarahi. Itu adalah  bagian saya dalam memulai proyek ini, dan setelah mengumpulkan banyak waktu informasi direkam termasuk selama perjalanan ke Singapura, kemudian saya mencatat, mengedit, membetulkan, mengubah, dan memastikan bahwa teks masih membunyikan seperti suara Marjorie. Adalah menarik bahwa ini merupakan proyek penulisan karena dibuat dengan fakta - seperti Maria Callas tidak bisa menyanyi disebuah ruang studio rekaman, dan oleh karena itu semua proses rekaman harus dilaksanakan pada saat sedang konser - Marjorie harus lebih dulu melaksanakan sebuah pendengaran dalam rangka merekam material untuk bukunya. Kebanyakan proses perekaman dilakukan di Singapura. Kaitannya dengan segala aktivitas di galeri sepanjang siang hari, Marjorie dan saya sering menemukan waktu yang terbaik untuk bekerja kadang terlambat pada malam hari sampai pagi hari, tetapi sungguh sial ini kadang-kadang bermaksud untuk mendengarkannya mungkin sudah mulai mengangguk batal terus tidur di dipan. Paling mengesankan ketika sesi perekaman lain mengambil tempat selama perjalanan kereta dari Bandung ke Jogjakarta, dan kita juga merekam sebagian dari material selama perjalanan ke Bali, Jakarta dan Magelang di Indonesia. Keseluruhan proyek adalah sebuah pelajaran pengalaman yang menyenangkan yang membuka wah! kepada image yang besar tentang seni rupa kontemporer Asia Tenggara.

Bukannya hendak membagi buku ke dalam bab tentang penggolongan seniman luar negeri, kita menyadari bahwa hal itu jadi lebih menarik ketimbang mencampur-adukkan semua seniman dari berbagai negara ke dalam bab yang memusatkan pada gaya tertentu, seperti drawing, still life (lukisan alam benda), lukisan figuratif, lanscape, patung, seni abstrak, dan seterusnya. Dengan cara ini mungkin Marjorie dapat membandingkan perbedaan antara konsep dan gaya seniman diberbagai negara Asia Tenggara. Dia dapat juga membuat cross-references antara seni dan craft (kriya): dia interes pada seni rupa Asia Tenggara untuk belajar tenun tekstil, teknik membatik dengan lilin, pernis, cor perunggu dan keramik. Satu bab fokus pada traveling dengan para seniman ke Bali, Australia, China, India dan Skotlandia; dan di sana tiga bab memusatkan pada seniman-seniman individu - Srihadi Soedarsono, Goh Beng Kwan dan Chua Ek Kay.

Sepanjang proses dalam mendokumentasi koleksinya, Marjorie merasa bahwa dia telah menemukan unsur-unsur penting dalam bahasa tentang seni rupa kontemporer Asia Tenggara, meringkas dengan point-point sebagai berikut:

Teknik kuas Cina yang sudah melebihi seperti tulisan tinta
Pengaruh craft, ritual dan kehidupan rakyat mewarnai pada seni rupa
Hitam dan putih diterima sebagai warna dalam seni rupa di Asia Tenggara
Pilihan untuk komposisi horisontal dan vertikal
Kertas dan kain kanvas sebagai media yang sama penting dalam seni rupa

Kita bermaksud mengucapkan rasa terima kasih kembali kepada Audrey untuk pembacaan kritisnya dan pertanyaannya yang provokatif selama proses editing; Mary Tolman untuk koreksi naskah dengan saksama tentang draft akhir; Chen Shen Po untuk ketrampilannya dalam menempatkan berbagai peta hand-drawn oleh Marjorie Chu; dan Pandu untuk keahliannya dalam memanipulasi koreksi warna dari image yang diteliti.

Ketika kita mengerjakan revisi teks akhir, kita bisa melihat candi Borobodur yang bagus sekali jauhnya hanya beberapa ratus meter. Pada saat itu, kita merilis Understanding Contemporary Southeast AsianArt menjadi judul paling sesuai untuk buku ini, sebab Marjorie paling tertarik akan seni rupa kontemporer Asia, dan dia memahami "Big Picture" tentang seni rupa di Asia.

[translated by A. Anzieb]

* the original text "Discovering the Big Picture of Southeast Asian Art" above is the preface to the book Understanding Contemporary Southeast Asian Art by Marjorie Chu (Singapore, Art Forum, 2003) ISBN 981-04-8575-1