
Proyek
Seni Rupa Yang Saling Kompromi
.!!!
Proyek
Ruang Per Ruang # 2, di Rumah Michelle Chin, Yogyakarta
by A. Anzieb
Proyek Ruang Per Ruang, berawal dari sebuah ruang yang notabene sebagai studio
dan rumah tinggal I Made Aswino Aji dengan Narpati Arwangga di kampung Soboman
no. 666, Ngestiharjo, kasihan Bantul, Yogyakarta 3 Mei 3 Juni 2002 lalu
diberi tema Dont Try This at Home. Daripada hanya buat
kumpul-kumpul dan nongkrong aja sama teman-teman lebih baik membuat kegiatan
yang positif lah, ungkap Aji sambil mengepulkan asap putih rokoknya. Kendatipun
fungsi rumah tetap utuh tanpa merubah menjadi sebuah ruang galeri maupun tidak
merubah atau memindah benda-benda lain pada posisinya semula. Ruang Per Ruang,
sebuah proyek premise-nya tidak hanya di satu tempat (lokasi) saja melainkan
berjalan terus dapat di tempatkan pada ruang apa saja, dan berpindah-pindah
dari lokasi ruang satu ke ruang lainnya, seperti rumah sakit, sekolahan, bahkan
ruang galeri itu sendiri. Karena proyek yang terhimpun dari berbagai lintas
disiplin praktisi seni ini tidak dalam rangka menentang atau menolak keberadaan
galeri-galeri konvensional. Karena bapak saya sendiri juga punya galeri
di Ubud - Bali, celetup Aji disertai tawanya yang polos.
Sebagai kelanjutannya Proyek Ruang Per Ruang ini, sejumlah sebelas seniman (Bambang
Toko, I Made Aswino Aji, Nur Alam, I Made Suarimbawa, Roni Wibowo, Wimo Ambala
Bayang, Yudi Sulistya, Ida Bagus Putra Wiradyana, I Made Widya Putra, Arya Pandjalu,
dan Dewa Gede Jodi Saputra) mulai awal September 2004 kembali menggelar Proyek
Ruang Per Ruang #2 di rumah Michelle Chin, Jl. Parangtritis Km. 6.5, desa Jurug,
Sewon-Bantul. Proporsi ruang yang hendak dipilih sebagai lokasi proyek tidak
sebatas dari ruang fisiknya saja sebagai alokasi untuk mengejawantahkan interaksi
antar seniman yang sama-sama bekerja di dalamnya, membangun interaksi antara
ruang yang dipilih dengan pemilik (penghuninya) serta kecakapan seniman membaca
atau merespon ruang tersebut dalam memaknai/menyatukan bentuk karya seni dengan
elemen atau benda-benda lain yang sudah mengisi di dalamnya. Dengan demikian
Proyek Ruang Per Ruang menawarkan jangkauan konsepsi memperluas makna ruang
menjadikan sebuah kontruksi yang lebih dinamis tidak hanya sebatas memiliki
nilai fungsi tetapi lebih luasnya untuk membentuk sebuah relasi sosio-budaya
dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya.
Sebagaimana yang ditekankan peran seniman pada kecakapannya merespon ruang untuk
membuat karya seni, ruang bisa dimaknai sebagai sebuah tempat bisa indor atau
outdor (public area), yang intinya ketika seni itu datang ke publik
bagaimana kemudian terjalin sebuah proses negosiasi (tawar-menawar) menekan
ego seniman ketika berhadapan dengan publik kompromi dengan pemilik rumah
serta saling negosiasi antar seniman sendiri dalam menentukan/memilih
bagian ruang yang hendak di respon. Dari proses seperti ini harapan mereka akan
terjalin kritik antar seniman selama proses berkarya, alih-alih bila menemukan
komplin dari pemilik rumah mengingat esensi yang ditekankan dalam hal proyek
ini proses kerja seniman yang secara bersama-sama merespon ruang dengan kurun
waktu tertentu. Proses tersebut dilalui mulai dari melakukan observasi, memilih/menentukan
ruang, kemudian ide visual karya maupun konsepsinya.
Antara bulan September hingga November 2004 proses berkarya secara berbarengan
di rumah Michelle Chin yang berarsitektur Jawa itu berjalan, hingga pada senin
sore, 13 Desember 2004 bermacam visual karya seni sudah menempati berbagai ruangan
rumah; ruang tamu (pendopo), dapur, kamar mandi, langit-langit, bibir sumur,
tempat jemur pakaian serta ruangan lainya yang bercampur dengan benda-benda
koleksi; seperti patung, lukisan, meja tamu, kursi secara resmi di buka oleh
Dr. Oei Hong Djien. Dalam komentar singkatnya seperti yang tertera dalam katalog
pameran, Ruang Per Ruang Project menunjukkan bahwa seni tidak mengenal
batas. Dari sepenggal komentar tersebut memiliki firasat bahwa refleksi
Proyek Ruang Per Ruang dirasa mampu mengubur konvensi-konvensi baku dalam seni
rupa terhadap makna ruang, publik maupun cara dan proses berkarya. Namun, saya
nilai tidak ada sesuatu yang baru hadir dalam proyek ini dan kecenderungannya
malah mengulang gejala seni rupa di awal 90-an sampai akhir sudah banyak menjamur
yang sudah dilakukan oleh seniman-seniman di Yogya maupun di kota lainnya. Dari
situ kita akan bisa mengetahui kedudukan karya-karya tersebut terbaca secara
teliti hasilnya atas merespon ruang, ataukah reposisinya justru terjebak sebagai
pengisi ruangan?
Bagi Michelle Chin sendiri karena dari sejak lama gemar mengkoleksi benda-benda
seni, tentunya disetiap sudut ruangan dan tembok sudah terpajangi benda koleksinya
secara rapi. Di sinilah letaknya kecakapan seniman dipertaruhkan jika dalam
proyek ini yang menjadi subject matter-nya adalah merespon ruang, sementara
itu seluruh ruangan bahkan sudah terisi oleh berbagai karya baik patung maupun
lukisan. Tak salah jika audiens yang datang menyaksikan pameran itu sulit membedakan
antara karya Ruang Per Ruang dengan karya koleksi Michelle Chin. Seperti yang
diceritakan Michelle Chin selaku penghuni rumah, akhirnya dia sendiri banyak
menunjukkan dan menjelaskan satu-persatu kepada setiap orang yang datang antara
karya-karya Ruang Per Ruang dengan koleksinya sendiri walaupun sudah dikasih
peta letak posisi karya, rupanya masih sulit juga orang membedakan. Seluruh
karya menyatu tak ubahnya seperti ruang galeri konvensional berarsitektur Jawa
yang berada di tengah-tengah pemukiman desa penuh dengan pajangan karya seni.
Catatan saya bahwa konsep ruang di sini secara definitif tak memiliki arti apa-apa,
artinya dari visual karya mereka sama persis dengan karya yang berada di galeri
sehingga karya-karya itu tidak ada sinergi dengan struktur ruang rumah Jawa.
Satu hal lagi yang tidak premise dari sebagian besar refleksi karya-karya tersebut
relasinya justru lebih cenderung mengisi beberapa bagian sudut dan ruangan yang
dilihat masih kosong, seniman tidak terbaca tengah melakukan atau merespon ruang,
atau dengan kata lain ide dan gagasannya tidak ada implikasinya dengan makna
ruangan yang dipakai. Yang nampak justru seniman sudah punya masalah sendiri-sendiri
yang dibawanya dari rumah dan sekedar memindahkannya ke dalam ruangan rumah
Michelle Chin sebagai bahan ide mewujudkannya menjadi karya seni yang semata-mata
itu hasil dari merespon ruang. Refleksi ini bisa lihat pada karya muralnya Yudi
Sulistya "Jauh di Mata Dekat di Hati" di sudut ruangan dapur. Seorang
figur laki-laki di visualkan dalam karya mural yang menempel di dinding tembok
yang dikelilingi bunga-bunga dari kanan hingga kiri yang di taruh dalam pot
sebagai simbol figur seorang wanita. Figur laki-laki yang divisualkan dalam
mural itu dianggap selama ini (ia) merasa terbelenggu oleh dunia (ruang) maya
dalam menjalin perkenalannya dengan seorang wanita yang terpisahkan oleh jauhnya
jarak kecuali hanya berkomunikasi lewat teknologi (telepon maupun sms). Istilah
itu sering orang menyebutnya "ada suara tanpa rupa". Begitulah, sebuah
kisah pribadi Yudi yang sudah sekian lama membelenggu kehidupannya dalam menjalin
hubungan dengan seorang wanita berada di Kalimantan sedangkan dia bermukim di
Yogya. Terbelenggunya Yudi hingga sekarang ini memang belum pernah ketemu dengan
wanita itu kecuali hanya bisa ber-sms ria. Kasus ini menunjukkan Yudi hanya
sekedar meminjam ruang dapur untuk memediasikan masalahnya yang sudah berbuntut
panjang dari hari-ke hari dan bulan-bulanan yang motif awalnya karena sms nyasar.
Jelasnya tidak ada relasi dengan proyek konsep Ruang Per Ruang ini, secara konsepsi
maupun filosofinya dengan sudut ruangan dapur yang dipakai karena tidak memiliki
dasar rumusan yang jelas.
Sebuah karya yang memiliki metafor dan memberi banyak perhatian adalah karya
milik Arya Pandjalu yang berjudul Re-Kreasi, tujuh figur potret
diri dengan berbagai pose berukuran 160 x 135 cm, laser print kertas hitam putih
yang ditempel pada permukaan styrofoom dihadapkan di depan (menonton) karya-karya
lain yang sudah ada di ruangan, antara lain karya lukisan I Wayan Danu, Eduard,
karya patungnya Supar Madianto. Menurut Arya, karya ini semacam peleburan antara
pelaku (kreator) dan penonton atau semacam berada dalam kedudukkan yang sama,
sederajat antara kreator ketika berhadapan dengan karya, dengan penonton ketika
berada di depan sebuah karya, atau dengan kata lain posisinya sama-sama sebagai
penonton. Karya Arya berkehendak menyikapi benda (karya seni) yang sudah mengisi
ruangan dari sebelumnya. Sementara karya-karya lainnya seperti yang sudah disebutkan
di muka hanya sebagai pengisi ruangan saja menjadikannya layak sebuah ruangan
galeri pada umumnya. Ini bisa dilihat karyanya Dewa Gede Jodi Saputra berupa
awan-awan berwarna biru dari bahan kawat kasa yang diletakkan di langit-langit
rumah, karya Made Suarimbawa (dalbo), maupun karya Nur Alam yang menjajar gelas
aqua berisi air dan ditanam bunga memenuhi tembok ruang kamar mandi. Lebih rinci,
bahwasannya seniman tidak jelas di dalam mengekspresikan ruang, yang terjadi
kemudian mis-perception terhadap ruangan itu sendiri. Rupanya seniman memang
tak memperhatikan dan memahami konsep struktur rumah, ruang (public speace and
private speace), arsitektur (rumah Jawa) menyangkut filosofi, dan fungsinya
yang berbeda-beda, sehingga tidak ada indikasi yang tampak dari para seniman
merekontruksi maupun mendekontruksi makna suatu ruang.
Yang cukup memberikan catatan penting dalam proyek ini adalah kemampuannya dalam
melakukan provokasi kepada para pecinta seni (kolektor) Magelang, Bali, Singapura,
untuk membeli karya-karya seni yang sebagian besar berupa instalasi dan video
art. Luar biasa. Apakah gejala ini bisa ditengarai sebagai jawaban bahwa karya-karya
seni rupa kontemporer sudah bisa dijual? [..]
A. Anzieb
Penulis Seni rupa & Kurator Independen, tinggal di Yogyakarta