I Ketut Budiana: Melukis Perlu Diawali dengan Meditasi

Untuk melukis dunia-dunia mistik, bukan asal mencoretkan warna dikanvas. Itu sangat teknis sifatnya. Tetapi untuk melakoninya perlu sesuatu pendalaman dari buku-buku atau cerita-cerita. Tentang dunia mistik atau kehidupan dunia niskala. Namun apa yang didalami dan diambil intisarinya untuk sebuah tujuan kebaikan. Bagaimana klita melihat diri kita sendiri secara utuh” tegas Ketut Budiana.

Untuk mendekati itu, ia selalu belajar dan nantinya akan menjadikan proses. Dan itu secara sadarsebagai terapi diri sekaligus pengobatan melalui berkesenian. “Kalau sudah bekerja seni saya rasanya sehat. Tidak hanya itu, saya juga bisa memberikan teraphi buat keluarga”, ujar Ketut Budiana.

Terapi art memang bisa saja. Lebih-lebih lagi Budiana sudah sampai kedalam, dengan melakukan pendekatan pada Kanda Pat. Pendekatan pada saudara-saudaranya yang ada dalam dirinya. “Jadi ia sudah mampu melakukan keseimbangan secara sekala (nyata) dan niskala (tidak nyata)”, ujar Putu Wirata Dwikora, yang mengaku pernah melakoni terapi.

Sama seperti orang yang suka baca puisi, kalau terlalu lama tidak ada kegiatan baca puisi, ia merasa sakit. Kemudian akan segar kembali ketika ada kesempatan untuk baca puisi. Aktifitas melukis dengan cara yang dilakukannya, suatu pendekatan ke dalam. Tentu dimulai dengan meditasi, melakukan perenungan, kemudian melakukan kekuatan setiap apa yang harus dilakukan. Bahkan secara tidak sadar ia bisa melakukan kegiatan seperti balian yang mebantu orang untuk melakukan pengobatan. Ia juga mampu menolak mara bahaya baik pisik maupu non pisik melalui pengendalian diri.

Misalnya kalau ada leak yang mencoba melakukan serangan, Budiana bisa mengatasi sendiri. Biasanya kalau sampai mengenal Kanda Pat ia selalu dalam penjagaan oleh saudara-saudara empat, untuk mengamankannya. Salah satu contoh adalah lukisan panjang bertajuk Pecalang. Itu jangan sekedar dilihat secara visual apa yang ditampakkan melalui karya seni lukisnya berdasar hitam. Tetapi kalau diterjemahkan tentu maknanya sangat dalam.

Sementara I Wayan Budiarta, menulis lontar yang juga menekuni dunia perdukunan menilai, seorang seniman juga bisa menghidupkan kekuatan yang ada dalam dirinya. terutama seniman yang banyak melakukan kegiatan ekspresi diawali dengan melakukan meditasi atau sembahyang.

Jadi mereka yang melakoni itu akan terasa karyanya bisa metaksu, dirinya terkesan ada karakter lain. Dan lama-lama dia juga akan tampil sebagai balian. Karena ia selalu menghidupkan inner power.

Kata Agung Rai, karya-karya Budiana sudah banyak kalangan budaya baik di Indonesia maupun Eropa mengakui, karyanya sangat kuat unsur magisnya disamping juga unsur surialisme. Jadi orang luar menilai karyanya Surealisme yang magis.