Suasana
Mistis dalam Karya Lukisan
Pacalang yang Saya Buat Pengamanan Bali
Karya lukisan ternyata bisa membawa penikmatnya larut kedalam suatu proses penemuan
dimana ada gelap dan menakutkan yang cendrung ke mistik. Bisa jadi itu sebuah
proses sugesti yang dialasmi oleh penikmat lukis itu sendiri. Tapi sebenarnya
di balik lukisan itu ada image-image yang disampaikan dan diciptakan sang pelukis.
Seperti proses pengendapan dan pengendalian hubungan manusia dengan Tuhannya.
Melihat karya adalah suatu langkah dalam upaya penemuan daan pengembangan sisi
spiritual kehidupan. Lukisan-lukisan Budiana dalam pamerannya sudah memberikan
kita tantangan kenali diri sendiri. Itulah karya Ketut Budiana, banyak
mengambil misteri tenteng Kanda Pat. Kebanyakan mengambil spirit dari
epos Ramayana, Mahaberata.
Dalam setiap lembar kanvasnya atau setiap judul lukisannya, seakan mengajak dunia
lain dalam sisi gelap. Membawa penikmat kedalam angan nun jauh, seperti terbang
dalam duania lain, dunia kegelapan atau dunia niskala yang memberi kebahagiaan.
Misalnya ada karya lukisannya mengambil spirit modre, yang biasa dikenal dalam
dunia hitam (Leak) kalau hendak belajar tentang leak.
Selain itu ada sisi magisnya. Visual karya lukisannya juga kebanyakan dengan dasar
warna pekat hitam atau satu dua berwarna merah. Terutama kalau kita memperhatikan
lukisan panjang bertajuk Pecalang memberikan keesan lain, suasana
hati seakan kosong atao kembali ke nol lalu mengajak kita untuk merenungi diri.
Seperti dalam tema lukisan Kenalilah Dirimu.
Tetapi di Bali ada yang sulit dipahami, seperti unsur-unsur Kanda Pat ujar Ketut
Budiana. Menurut Budiana manusia berkaitan dengan manusia dan manusia dengan lingkungan.
:Siapa yang menuntun kehidupan manusia setiap hari, itu kan ada ujar
pemilik Museum ARMA Anak Agung Rai.
Inilah yang harus diharmoniskan. Satu sisi ramayana dan Mahaberata sebagai acuan.
Tetapi dalam perilaku kita harus selalu ingat (eling) terhadap saudara-saudara
kita didalam diri: Anggapati, Mrajapati, banaspati, Banaspati Raja. Karena itulah
kekuatan Kanda Pat yang menuntun kita dalam keseharian. Jadi kalu manusia tidak
dekat dengan ini berarti dia bisa dimusuhi. Oleh siapa? Ya, saudaranya sendiri
yang tercantum dalam Kanda Pat itu tandas Agung Rai.
Nah, karena itu kita perlu merenungkan diri penting untuk lebih mendalami, menghayati
keberadaan saudara kita sendiri. Banaspati misalnya, adalah saudara kita yang
ada disana untuk lahir di duania yang nyata. Ini yang nanti dijadikan sebagai
guiding (petunjuk) dalam kehidupan sehari-hari. Inilah misteri yang ada dalam
karya-karya Ketut Budiana ujar Agung Rai.
Selama ini orang hanya sekedar tahu, misalnya membuat sesajen, tapi apa maknanya
dalam kehidupan sehari-hari tidak banyak yang mengetahui. Maka urai Agung Rai,
ini sengaja diangkat dalam sebuah pameran. Karena tepat sekali dalam menyambut
Tahun Caka Baru (Nyepi) bagi umat Hindu.
Tentang lukisan Pecalang bagi Budiana, menganggap bahwa pecalang sebagai
suatu penjaga menjaga Bali. Dalam lukisan itu ada visual Saraswati yang merupakan
sumber dari pada ilmu. Lukisan dengan panjang 10 meter lebar 70 cm itu menggambarkan
semua orang dalam menuntut ilmu pengetahuan dan sastranya semua tertuang disana.
Dari sinilah dijabarkan melalui praktek-praktek. Misalnya kalau orang mau menjadi
balian sumbernya dari sini. Mau jadi undagi sumbernya juga dari sini. Mau jadi
penari, penabuh juga sumbernya dari sini. Petani, termasuk hal-hal lainnya dalam
kegiatan di Bali sumbernya juga dari sana.
Dalam lukisan warna dasar gelap ini dibuat empat figur. Pertama figur yang menguasai
di pinggir yaitu Selatan, Timur, Barat dan Utara. Sedangkan yang di tengah itu
kita sendiri. Jadi ini juga yang disebut dengan Kanda Pat tegasnya.
Jadi Kanda Pat itu banyak sekali seperti; Kanda Pat Rare, Kanda Pat Sari, Kanda
Pat Buta, Kanda Pat Dewa dan banyak sekali.
Inilah yang saya maksudkan sebagai penjaga Bali. Selama orang Bali belajar dengan
acuan kesana maka budaya-budaya Bali bisa dipertahankan. Itulah tujuan saya membuat
Pecalang yang merupakan Benteng Bali. Diakui atau tidak sesungguhnya saya maupun
teman-teman Bali lainnya secara niskala ataupun visual sudah ikut melakukan pengamanan.
Misalnya, saat melukis niat saya sudah ada di sana. Kemudian dari melakukan upacara
tawur, juga ada tujuan untuk menetralisir. Karena kita menghormati dalam kehidupan
lain, maka kita juga dihormati. Jadi kitapun harus selalu ingat imbuhnya.
Rupanya Budiana spesialis untuk tampil dengan karyanya yang metaksu. Baik dalam
seni patung atau lukisannya, terasa ada getaran dan kontak magnetik. Gubernur
Bali, Dewa Beratha mengakui ada kesan lain ketika melihat lukisan Budiana. Semula
saya hanya mengenal Budiana sebagai pematung dan undagi. Bahkan saya sempat memesan
karya patungnya. Tetapi ketika membuka pameran lukisannya saya benar-benar tertarik.
Ada perasaan lain sekaligus saya mengaguminya tandas Dewa Beratha.
Tetapi, bagi Budiana, melukis seperti ini tidak bisa diselesaikan dengan cepat
dan membutuhkan waktu lama. Karena ada semacam penyaluran energi dalam diri kedalam
karya, sehingga apa yang kita buat tidak dirasakan oleh penonton seperti memandang
sesuatu secara fisik. Dia juga ikut melihat kedalam dari ciptaan itu.
Budiana memang banyak melukis kehal-hal keniskalaan, misalnya dia melukis Barong
sama sekali jauh dari Barong fisik melainkan lebih mengarah menuangkan spiritnya
(ke dalam). Budiana sebagai pelukis dengan kesehariannya sangat menyatu. Ia tergolong
seniman langka, tandas Agung Rai. Misalnya dalam keseharian Budiana dimanfaatkan
oleh masyarakat dalam bidang pembuatan patung-patung di Pura-pura, di kuburan-kuburan
dan sebagainya. Begitu pula saat masyarakat memiliki upacara Ngaben, Budiana dimanfaatkan
untuk membuat wadah atau bade.
Itulah artinya, karya-karya Buadiana tidak saja untuk dipasarkan, tetapi dikoleksi
oleh masyarakat sebagai hiasan di Pura dan di kuburan-kuburan.
[2000]