I KETUT JAYA
Born Budakeling, Karangasem, Bali, 15 July 1970
Education: STSI Denpasar (partial studies only)Group
Exhibitions
2006
Sensitive, Pop Danes Art Veranda, Denpasar
2002
Komunitas Seni Rupa Lempuyang, Art Centre, Denpasar
2001
Pameran Pasar Rakyat Arttention, Matamera, Denpasar
Seni Rupa Bali Kontemporer, Bentara Budaya, Jakarta
2000
Mini itu Indah, Paros Gallery, Sukawati, Bali
1999
Kelompok Lempuyang, Hilton Hotel, Surabaya
Sanggar Dewata Indonesia Millenium Art Exhibition at 6 museums in Bali
1998
Kelompok Lempuyang, Studio Lempuyang, Amlapura, Bali
Kelompok Lempuyang, Puri Agung, Amlapura, Bali
Mata Hati Sketches & Drawings, Art Centre, Denpasar
1997
Kelompok Lempuyang, Hotel Puri Bagus, Candidasa, Bali
1996
KAMASRA, STSI Denpasar
Kelompok Lempuyang, Matahari Resort, Singaraja, Bali
1995 Kelompok GELIS, Ubud, Bali
I
KETUT JAYA
[English]
"I want to express the interaction between nature and Balinese culture.
The interaction of ritual, symbol and colour inspires my quest for artistic
freedom, my ideas and my hopes."
Nature and Balinese culture exude a strong sense of religion. Symbols, colours
and traditional ceremonies support the Balinese people in a spirit of religion
which is often full of mystery, although the essential, eternal truth remains
- honesty, submission to God, and beauty. This awareness of nature and culture
forms the basis of Jaya's creative work.
Jaya was born in 1970 in the village of Budakeling, Karangasem, in east Bali.
He studied Fine Arts at the Indonesian College of the Arts, Denpasar for two
years after graduating from secondary school. He has participated in group exhibitions
in Ubud, Denpasar and Surabaya from 1995 onwards. He is a member of the Lempuyang
Group of artists which is based in Amlapura, Karangasem.
[Bahasa Indonesia]
"Pengungkapan setiap detik dari intraksi pesona religius alam Bali dari
simbul, warna-warna dan ritual. Interaksi itu yang menimbulkan ide-ide, harapan
dan kerinduan kedalam kebebasanku didalam karya seni."ALAM dan budaya Bali
sangat kuat menghembuskan napas religiusitas. Simbol, warna maupun ritual tradisonal
yang hidup dan menghidupi masyarakat Bali begitu pekat dijiwai oleh spirit religius
yang terkadang penuh misteri. Namun, semua itu pada akhirnya bermuara pada hakekat
kemanusiaan yang sejati -- kejujuran, kepasrahan kepada Tuhan Sang Pencipta,
keindahan.
Kesadaran terhadap alam dan budaya seperti itulah yang mendasari kerja kreatif
Jaya, pelukis yang dilahirkan di Budakeling, 15 Juli 1970. Dalam memaknai kebebasannya
sebagai seniman, ia rajin melakukan dialog batin dengan lingkungan yang bergelimang
aura religius tanah kelahirannya. "Interaksi itu menimbulkan ide-ide, harapan
dan kerinduan ke dalam kebebasanku berkarya seni," ungkap pemuda yang menempuh
pendidikan seni rupa di STSI Denpasar dan aktif berpameran sejak 1995 ini.
PRESS
'Karangasem boys' invigorate Bali painting scene
THE JAKARTA POST | July 29, 2006