[2001]
REALITA SUBJEKTIF MADE Budhiana
Sapuan kuas biru dilintasi garis ramai dan kilapan aneka bidang berwarna-warni:
pada pandangan pertama lukisan-lukisan Made Budhiana (41) memang memberikan kesan
bidang yang penuh sesak., seperti lazimnya lukisan Bali yang naratif itu
..Tetapi
mari kita benar-benar mengamatinya, mari kita bebaskan mata mengikuti tarian garis
ini, lalu masuk menyusup di kilapan bidang itu, sebelum loncat ke torehan kuas
berwarna , dan apa yang terjadi? Kita terjebak irama; mata kita hanyut mengalun
naik turun mengikuti bentuk-bentuk yang lahir mengikuti kejaran mata, berupa entah
bayangan makhluk maya atau impresi sesaat warna alam. Gambar Made Budhiana ternyata
berhasil melahirkan satu suasana, yang mengajak kita menghadirkan suatu dunia
imaji baru dari dalam irama bentuk dan warna. Pameran karyanya yang diselenggarakan
di Sika Gallery Ubud antara tgl 17 January dan tgl 16 Februari adalah ajakan untuk
mereguk sepuas dan sebebasnya imaji-imaji itu.
.Made Budhiana, seniman kelahiran Denpasar pada tahun 1959 ini telah lama mengukir
garis evolusi yang khas di antara sesama pelukis Bali. Berbeda dengan kebanyakan
pelukis Bali segenerasi, yang karyanya adalah pantulan gejala eksotisasi budaya
Bali sebagai akibat pariwisata, dia tidaklah menjadikan seni rupa sebagai ajang
identitas etnis. Pada karyanya tidak ditemukan tema legong atau wayang yang memberikan
warna Bali pada torehan liris seorang Gunarsa. Tidak ditemukan pula kain poleng
atau simbol gunung yang mewarnai dengan simbolika Hindu abstraksi seorang Erawan
atau Sika, dan tidak ditemukan pula warna mas dan repetisi patrun-patrun yang
mewarnai dengan struktur Bali abstraksi formal seorang Wianta. Mungkin karena
dia tumbuh di dalam budaya plural kota Denpasar, Budhiana tidaklah terobsesi oleh
wacana etnis. Kesadaran dan ekspresi yang nampak di dalamnya sebaliknya bersifat
"pribadi", tidaklah merupakan kesadaran kelompok. Unsur-unsur warisan
Bali yang ditemukan pada lukisannya tak lebih daripada elemen memori visual, dan
sama sekali bukanlah acuan identiter simbolis atau . Meskipun ruang kanvas penuh
sesak dengan aneka unsur garis, penampilannya sama sekali bukan "Bali":
garis yang dipakainya bersifat dinamis, non-repetitif dan non-naratif, sehingga
kesan yang diberikannya justru bertolak belakang dengan lukisan tradisional Bali
yang terpatrun ketat dan tanpa fokus visual yang jelas itu. Meskipun pelukis terpengaruhi
oleh latar belakang budayanya, dia telah mampu mereinterpretasikannya secara original.
Budaya asalnya membayanginya tanpa memdominasinya.
Dinamika warna dan bentuk yang merupakan originalitas utama lukisan Made Budhiana
ini adalah hasil dari pendekatan khasnya terhadap realita sekitarnya. Made Budiana
adalah orang gelisah, yang mencurahkan dan sekaligus mengatasi kegelisahaanya
melalui penjelajahan. Tiada daerah Bali yang tidak dia pernah lalui, tiada jenis
manusia Bali yang tidak dia dekati. "Saya menikmati warung-warung kumuh di
pinggir desa," tulisnya di dalam katalog," (saya) menyelusuri jalan
setapak di bawah lembah, berendam di kali di pinggir jalan pedesaan, bercakap-cakap
dengan orang desa, bernain dengan anak-anak kampung yang telanjang
(dan)
saya percaya ada semacam pengendapan humanistik, ekologis, sosiologis dan juga
psikis atas apa yang saya dengar, rasai.". Dari kata-kata ini terpantul kesan
seorang pribadi yang mengejar pengalaman demi proses "rasa" yang digelindingkan
oleh pengalaman itu sendiri. Proses "rasa" yang konon bertahap. Pada
awalnya, aku Made Budhiana, yang dialaminya adalah "nikmat", lalu kenikmatan
itu diendapkan
Barulah sang pelukis dalam dirinya terbangun dan mulai berkarya.
Garis-garis muncul meletik satu per satu menjelma bunga warna. Disini memancar,
disana berkelabat, dan di sisi lain menyatu di dalam keliaran yang tetap utuh
terjaga. Ada irama keseluruhan yang padu, tetapi disana sini ada juga beberapa
garis yang dibebaskan untuk menghadirkan makna. Di kanvas, mulai hadir bayangan-bayangan
wujud alam. Namun, sebelum bayangan itu sampai pada bentuk yang jelas, garis-garis
itu tiba-tiba menemukan dirinya lewat bentuk yang sebelumnya tak dikenal: makhluk
alam bahkan mungkin juga makhluk-makhluk dunia bawah sadar. Dengan demikian alam
telah tersulap menjadi pantulan batin. Dan itulah daya tarik utama karya-karya
Made Budhiana: lukisannya memantulkan persepsi intuitifnya terhadap alam dan sekaligus
mengungkapkan unsur-unsur dunia bawah sadar. Kenyataan diakui eksistensinya, bahkan
dijelajah secara sistematis melalui aneka pengalaman, tetapi tidak pernah diupayakan
untuk diobyektivasikan dan dikenali. Buat diri Made Budhiana "Kenyataan"
tidak terpisahkan darinya. Meski dialami, diendapi dan direaksikan dalam karya,
tidak pernah nampak dengan jelas adanya perbedaan antara alam dan pelukis, antara
obyek dan subyek. Obyektivasi dan interiorisasi, dua momen pokok dari proses kreatif,
yang pada umumnya terpisahkan satu dari yang lainnya, justru dipersatukan pada
karya-karya Made Budhiana. Dengan demikian --dan secara paradoksal, pelukis yang
tidak pernah mengacu pada tema-tema eksotis atau etnis ini justru lebih "Timur"
dalam karyanya daripada kebanyakan rekan Bali nya. Kepribadiannya melebur tak
terpisahkan di dalam kebesaran semesta. Karyanya adalah persembahkan pada totalitas
semesta.
Di antara karya-karya yang yang ada pada pameran di Sika Gallery terdapat suatu
seri menarik perhatian secara khusus, yaitu seri lukisan dengan latar belakang
kanvas hitam. Di antaranya salah satu karyanya yang paling menawan adalah "Enerji
Merah", yang justru tampil sebagai renungan pelukis atas kebesaran kosmos
-sejenis kesimpulan atas semua penjelajahan. Mata terbawa irama dinamis aneka
warna berbinar yang memadukan sekaligus memencarkan makluk-makluk dari dunia antaberantah
dengan torehan dan bidang berwarna merah, putih, biru dan kuning. Seluruh gambar
seperti berkedap kedip hidup sesaat di depan kegelapan antariksa. Kita diperhadapkan
pada kebesaran dan enerji kosmis. Gambar dari lain seri yang juga menarik adalah
"Alam dan Kehidupan" yang paduan warna hitam dan putihnya menerjemahkan
di dalam bayangan sesaat kehidupan makhluk laut.
Dibandingkan pameran sebelumnya, Made Budhiana nampka maju selangkah ke depan,
terutama dengan eksperimen karya dengan latar belakang hitam yang khusu ditampilkannya
ini. Agaknya pelukis yang sudah tak terbilang jumlah pamerannya baik di Indonesia
maupun di luar negeri, kini tengah menjernihkan konsep-konsep estetisnya serta
memberikan makna filosofis pada penggalian kreatif keseniannya. Keping-kepingan
bidang warna yang menghiasi kanvas-kanvasnya di sini tidak lagi tampil kesan sesaat
terhadap suatu pengalaman visual, tetapi telah diliputi suasana kosmis. Bila nanti
ketakterpisahan antara diri pelukis dan alam sekitarnya sudah sepenuhnya bersifat
sadar, "endapan" yang dicapai Budhiana di atas, pastilah kelak akan
menjadi perenungan. Maka di saat itu, kepingan warna akan hadir sebagai paduan
yang sepenuhnya utuh, dan subyektivitas dengan sendirinya lebur kehilangan arti.