KOMPAS 13/5/2002
Seni Rupa Pengembaraan Made Budhiana
DAERAH-daerah di lereng utara Gunung Agung sangat gersang pada musim kemarau.
Orang-orang yang tinggal di Desa Ban, misalnya, mesti menumpuk makanan jauh-jauh
hari sebelum bulan Juli, di mana kemarau memasuki batas desa. Maka di jalan-jalan
pinggir desa tampak gaplek berjajar-jajar dijemur. Alam yang keras membuat
penduduk seperti tak punya pengharapan. Jalan-jalan retak, anak-anak tak bersekolah,
para orang tua sepanjang hari hanya membolak-balik gaplek.
"Mungkin pemerintah saja tak tahu di mana letak desa ini," tutur
perupa Made Budhiana di rumahnya, di kawasan Jalan Veteran Denpasar, Bali.
Di Desa Ban, katanya, seorang pengembara mesti siap melawan alam karena cara
berlindung satu-satunya adalah membiarkan diri larut pada kehendak alam. "Bila
panas kepanasan, bila hujan kehujanan," ucapnya sembari mengibaskan rambutnya
yang panjang.
Sejak beberapa tahun terakhir Budhiana "mengembara" dari desa satu
ke desa lain: menyusuri pantai-pantai yang tak pernah dipetakan atau melintasi
setapak untuk menggapai punggung Gunung Agung. Hiruk-pikuk jagat dunia seni
rupa dengan segala rekayasa "goreng-menggorengnya" itu, sudah lama
ia "tinggalkan".
Di Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem, Bali, Budhiana singgah. Di situ,
hampir 200 anak yang sebagian besar tak mengenal sekolah, ia ajak bermain-main:
Menggambar. Hanya menggambar!
"Saya tak berharap mereka jadi pelukis. Orang bersekolah seni saja belum
tentu jadi pelukis. Kegiatan itu semata-mata untuk membebaskan mereka dari
kehidupan yang monoton, keluar desa saja mereka tidak pernah," katanya.
Hasilnya, kata lelaki lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini,
banyak anak yang melukis secara mengejutkan. Mereka mulai melukis alam lingkungan
mereka dalam nuansa ketertekanan. Gunung dan bukit-bukit karang yang gersang
atau jalan-jalan desa yang mencekam, serta pohon-pohon lontar yang tabah.
"Mi-nimal mereka memperoleh pembebasan lewat lukisan," ujar Budhiana.
Ia yakin, penjelajahan imajinasi setidaknya menolong terbukanya katup pikiran
yang kerdil, hingga suatu saat nanti mereka memiliki daya hidup.
***
PADA waktu lain, Budhiana mengajak anak-anak nelayan di Pantai Pesinggahan,
Klungkung, melukis di pasir. Lain kali ia hanya menyusuri pantai untuk memungut
atau memotret benda yang dibawa ombak, entah dari mana. Bermula dari semua
itulah konsep seni rupanya. Di sebuah bilik yang ia jadikan studio, terlihat
benda pungutan dari pantai berubah menjadi benda dengan nilai artistik.
Alam yang keras, katanya, memiliki keindahannya sendiri. Di situ ada tekstur,
cuaca yang pekat, langit, komposisi, warna, dan bahkan fantasi. Anak-anak
desa yang terkucil menganggap semuanya biasa karena panorama itu menjadi bagian
hidup sehari-hari. Belajar menggambar adalah belajar menghayati apa sesungguhnya
yang biasa menjadi tidak biasa.
Pelukis yang pernah menolak Lempad Prize karena dianggapnya bermuatan politis
ini, mengatakan "pengabdiannya" kepada anak-anak bukanlah demi kemajuan
konsep estetikanya. "Ini semata-mata tanggung jawab sosial sebagai seniman.
Kalau toh nanti mempengaruhi konsep seni rupa saya berarti ada sesuatu yang
lain sedang bekerja," ujarnya.
Apa yang sekarang dilakukan Budhiana, jika diurut-urut berhubungan dengan
masa kecilnya. Ia lahir di sekitar ruas jalan yang pertama-tama berkembang
sebagai wilayah pariwisata di Kota Denpasar, sebelum Sanur dan yang lain-lain
tumbuh.
Ketika Hotel Bali dibangun sekitar tahun 1960-an di Jalan Veteran Denpasar,
sepanjang jalan itu tiba-tiba berdiri beberapa art shop. Tentu saja peluang
ini ditangkap para pelukis. Secara kebetulan Budhiana bertemu dengan para
pelukis yang tinggal di sekitar jalan itu. "Zainal, murid pelukis Dullah,
yang pertama-tama membawa saya ke seni lukis," tutur pemenang penghargaan
Pratisara Affandi Adhi Karya dari ISI Yogyakarta tahun 1997 ini.
Ketika bersekolah di sekolah menengah umum atas (SMUA) Saraswati Denpasar,
Budhiana malah sering kali mengerjakan tugas melukis yang diberikan guru kepada
teman-temannya. "Bahkan mereka sampai membayar saya untuk melukis,"
kenangnya. Semua pengalaman itulah yang membawanya kemudian memutuskan masuk
ke ISI Yogyakarta.
***
ALAM bagi Budhiana sumber inspirasi yang selalu melecutnya berkarya. Ketika
membandingkan kekerasan alam Desa Ban dengan alam Darwin, Australia, yang
pernah ia kunjungi, ia mendapatkan karya bisa lahir karena hal sepele. Ketika
hanya angin yang tertangkap indera perasanya, maka ia melukis dengan penuh
impresif. Sebaliknya ketika tekstur bukit yang cokelat menyodoknya, maka ia
bisa melukis dengan sangat ekspresif.
"Saya tak pernah terikat pada satu macam style, karena itu akan mengungkung
kita," ujarnya. Tetapi, sebagian besar karyanya melukiskan abstraksi-abstraksi
tentang "sesuatu" pada kanvas. Karena ketidakterikatan itulah maka
Budhiana bisa melukis di sembarang waktu dan tempat. Ia tak pernah terganggu
ketika harus melukis di pasar atau dalam keramaian kota.
Bila Budhiana agak berbeda dari para pelukis Bali yang belajar di ISI Yogyakarta,
perbedaan paling jelas tampak dalam keterikatan pada tradisi. Lukisan abstrak
anggota Sanggar Dewata (anggotanya sebagian besar pelukis Bali di ISI Yogyakarta)
umumnya tetap meninggalkan jejak kebaliannya.
Budhiana memang tak bisa dimasukkan ke dalam kelompok itu karena perbedaan
latar belakang sosial dan kultur. Ia lahir di pusat Kota Denpasar, sebuah
kota urban, yang bersentuhan secara langsung dengan kultur luar, termasuk
asing. Kultur dan latar sosial yang dihayati Budhiana adalah kultur-sosial
yang sangat terbuka terhadap berbagai kemungkinan perubahan, termasuk adopsi
terhadap hal baru.
Maka dalam karya-karyanya kita sangat sulit melacak jejak Bali. Barangkali
Bali hanya bisa ditemukan pada kepekaannya terhadap warna. Seringkali ia menderetkan
warna-warna kontras seperti merah, kuning, dan hijau atau biru. Warna-warna
itu dengan mudah kita temukan pada umbul-umbul atau tedung (payung dari kain)
saat-saat upacara di pura.
Kemudian bisa dipahami, sebagai orang "kota" Budhiana seolah selalu
menemukan hal eksklusif ketika memulai pengembaraannya. Tercatat pelukis ini
pernah mengikuti artists camp di Darwin (Australia) dan melukis bersama suku
aborigin, kemudian ke Bassel (Swiss).
Pada saat mengembara
itulah, katanya, ia memperoleh apa yang kemudian disebutnya sebagai intelektual
rasa. "Inilah yang bisa membebaskan kita dari ruang dan waktu, studio
saya bisa di mana saja," katanya.
Bila kemudian dia singgah di Desa Ban, itu bukan semata-mata karena keinginan
mengembangkan konsep seni rupanya. Bukan pula semacam bahasa politik ingin
mengabdikan ilmu di desa. Apa yang ia kerjakan, katanya, semata-mata mengajak
mencari jalan bersama untuk kemudian membebaskan diri dari keterkungkungan
masing-masing.
Bagi ratusan anak-anak berusia antara lima-15 tahun di Desa Ban, belajar melukis
berarti memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk terbuka, menerima kemungkinan
nasib hingga tak melulu tergantung pa-da alam yang keras. Sementara Budhiana
sendiri seperti seorang pejalan yang kebetulan menemukan mata air. Tak ada
salahnya membasuh rasa haus untuk kemudian mengembara lagi... (M08/PUTU FAJAR
ARCANA)