Bali Post 30 November
2003
Katalog Seni Rupa, Wacana atau Gambar?
Tahukah Anda apa yang dipikirkan para perupa untuk menyelenggarakan pameran bersama
atau tunggal? Selain kesiapan dan kematangan karya yang mau dipamerkan, juga tak
kalah pentingnya adalah katalog. Inilah acapkali merepotkan seniman perupa karena
penyiapan katalog lumayan juga menyita tenaga, pikiran dan biaya. Keberadaan pameran
dan katalog sama pentingnya bagi mereka, karena katalog adalah semacam ''pengantar''
permanen dari keberadaan pameran itu sendiri, juga semacam memberi ''pintu masuk''
bagi pengantar apresiasi atas karya-karya yang dipamerkan. Karena itu, sebagian
dari kerepotan perupa untuk menyelenggarakan pameran seringkali lebih banyak pada
urusan katalog.
MEMANG, katalog tak mesti ada, karena yang utama adalah pameran seni rupa itu
sendiri. Satu dua pameran yang di Denpasar atau Ubud pernah juga terjadi tanpa
katalog. Bukan karena mereka tak menyadari pentingnya katalog, namun mahalnya
biaya cetak katalog membuat mereka akhirnya kembali kepada substansi pameran,
ialah menempatkan karya-karya yang dipamerkan sebagai hal utama. Para pelukis
yang masih menekuni studi di STSI (kini ISI) Denpasar kadang-kadang membuat katalog
dengan sangat sederhana karena bertimbang kepada ketiadaan dana. Maklum, mereka
masih mahasiswa. ''Kadang-kadang kami menjadikan undangan pameran itu sekaligus
sebagai katalog,'' ujar seorang perupa yang masih duduk di ISI Denpasar.
Memang, jika mau membuat katalog pameran yang cukup representatif, itu membutuhkan
biaya sedikitnya Rp 3.000.000. Belum lagi mengayar honor satu dua penulis atau
kritikus yang memberi pengantar karya seniman perupa yang berpameran. Katalog
pameran tunggal Made Budhiana di Sika Cntemporary Art Gallery beberapa tahun lalu
sedikitnya menghabiskan dana Rp 17.500.000. ''Itupun sepenuhnya biaya sendiri,''
kata pelukis Made Budhiana. Bahkan katalog pameran tunggal pelukis Mangu Putra
di Jezz Gallery yang dibuat dengan sangat lux, hard cover, dan melibatkan sejumlah
penulis dan kritikus seni rupa, biaya jauh lebih besar lagi. ''Kami hanya mau
menunjukkan suatu kesungguhan berpameran. Jangan dilihat karena mahalnya,'' aku
Gus Arimbawa, pemilik Jezz Gallery.
Namun diadakan atau tidak, para perupa tetap menganggap hal penting dari suatu
pameran seni rupa adalah dengan disertai katalog. Pameran dan katalog saling mendukung,
saling mengisi dan ada anggapan bahwa jika suatu pameran usai maka katalog itulah
yang akan ''memindahkan pameran seni rupa itu ke rumah-rumah'', kantor museum,
galeri atau ke tangan-tangan pengamat dan kolektor seni rupa. Dan katalog pun,
dalam sisinya yang lain, bisa menjadi fungsi dokumentasi dari suatu peristiwa
yang diselenggarakan pelukis, juga untuk mengetahui dan mengukur seberapa jauh
pencapaian estetik sang perupa yang bersangkutan.
Fungsi Utama
Fungsi utama katalog dalam pameran seni rupa adalah memperlihatkan karya-karya
yang dipamerkan. Bisa saja tidak seluruh karya dijejalkan di katalog. Sebagian
atau beberapa pun tak menjadi persoalan, karena dengan respresentasi beberapa
karya setidaknya telah mewakili style dan kecenderungan estetik si seniman dalam
suatu masa berkarya si seniman. Tapi jika katalog seni rupa dibuat dalam kepentingan
lelang, seperti yang sering dibuat oleh Bali Lelang Larasati di Jakarta, atau
Christie's dan Southebys, maka seluruh karya seni rupa yang dilelang, apakah itu
lukisan atau patung, haruslah dimuat seluruhnya berikut dengan data karya dan
harganya. Semua tergantung konteks apa suatu katalog seni rupa itu dibuat.
Tapi dalam beberapa tahun terakhir ini, yang menonjol adalah antara karya dan
teks ditempatkan sama pentingnya. Ini tak bisa dihindari pewacanaan tentang seni
rupa belakangan ini begitu deras terjadi, baik itu ulasan suatu perkembangan seni
rupa, pengantar karya suatu pameran hingga polemik dan kritik di berbagai ruang-ruang
diskusi seni dan media massa. Pewacanaan seni rupa dalam sejumlah katalog pameran
seringkali sama imbangnya dengan jumlah karya yang termuat dalam katalog tersebut.
Dalam pameran Wearable, misalnya, yang diselenggarakan secara maraton dari Bandung,
Yogyakarta dan Bali pada tahun 1999, sungguh-sungguh diperlihatkan betapa antara
teks dan karya rupa ditempatkan sama pentingnya.
Juga pada katalog "Seni & Multikultur" yang diadakan di Kubutambahan,
Buleleng setahun lalu, katalognya malah memperlihatkan lebih erat pada aksentuasi
teks. Ini karena bingkai aktivitas budaya itu berangkat dengan kekuatan konsepsi.
Bahkan dalam banyak kenyataan terlihat bahwa wacana seni dalam kegiatan kemah
budaya itu memang sangat tekstual. Diskusi pertanggungjawaban karya menghadirkan
konsepsi-konsepsi atas karya yang dibuat, menyebabkan katalog yang dibuat belakangan
akhirnya tak bisa lain adalah menghadirkan katalog karya dengan pertanggung jawaban
konseptual artistik.
''Ini suatu kegiatan di mana kita berkarya secara spontan dan kreatif lalu seniman
yang bersangkutan belajar mempertanggung jawabkan proses kreatifnya secara konseptual,
atau seniman lain meresponsnya dengan konsep-konsep menurut cara pemahaman orang
di luar si seniman yang bersangkutan,'' ungkap Hardiman yang menjadi salah seorang
penggagas kegiatan tersebut.
Begitu pentingnya arti pewacanaan seni rupa, sebuah pameran dalam rangka "Ruwatan
Bumi" di tahun 1998 di Taman Budaya Bali malah membuat katalognya dalam bentuk
lembaran surat kabar. Selain memuat karya-karya peserta pameran, juga yang lebih
banyak adalah wacana tentang kegiatan tersebut. Teks menjadi bingkai besar buat
memberi makna atas hajatan seni tersebut. Dan masih banyak lagi pameran-pameran
seni rupa yang memberi ruang besar kepada wacana seni rupa, dan ini tak bisa dilepaskan
dari perkembangan apresiatif orang-orang yang menaruh minat kepada kesenian. ''Wacana
dan kritik seni rupa malah terlihat berkembang sangat sengit dalam tahun-tahun
terakhir ini,'' ungkap pelukis Tatang BSp. sambil mencontohkan banyaknya surat
kabar yang memberi ruang kepada wacana dan kritik seni rupa.
Seni Konsep
Tak juga bisa dihindari adalah bertumbuhnya seni konsep yang belakangan ini cukup
menarik perhatian peminat seni dan seniman rupa. Dalam sejumlah pewacanaan seni
rupa di ruang-ruang diskusi maupun event-event seni rupa seperti bienale atau
pameran-pameran eksperimental, terdapat kecenderungan untuk saatnya para perupa
memiliki pertanggung jawaban "CP Open Bienalle" yang diselenggarakan
belakangan ini. Bienale yang memberi ruang baru bagi segala kemungkinan-kemungkinan
artistik dalam seni rupa ini jelas-jelas menekankan konsep sebagai bagian integral
dari proses kreatif dan pencapaian estetik seniman.
Berkembangnya seni konsep inilah, selain derasnya pewacanaan seni rupa, yang menyebabkan
pembuatan katalog pameran tak lagi sekadar memuat karya-karya seni rupa yang dipamerkan,
melainkan juga dirasa penting menghadirkan teks atau wacana sebagai imbangan atas
karya yang dipamerkan. Tapi menurut pelukis Made Budhiana, konsep-konsep yang
mewacanakan seni rupa haruslah proporsional. Karena, menurut pengamatannya, seringkali
wacana yang ada dalam katalog pameran terlalu berlebihan dalam membicarakan karya-karya
yang dipamerkan. ''Lukisan yang sebetulnya tak terlalu istimewa kok dibahas dengan
gawat, dengan bahasa seram-seram pula,'' gerutunya. Karena itu, ia tak alergi
dengan seni rupa yang berkonsep, tapi jika konsep yang dibuat lebih gawat dari,
misalnya karya seni rupanya, ini malah tak imbang. ''Yang mau dipamerkan itu karya
seni rupa atau sastra?'' tambah Budhiana.
Sulit dihindari bahwa wacana dan karya hampir menjadi pasangan yang sama berartinya
dalam katalog yang melengkapi sebuah pameran seni rupa. Masalahnya, menyitir Budhiana,
adalah upaya menempatkan wacana dan karya rupa secara proporsional. Dalam konteks
di mana kini wacana telah hadir dalam khasanah seni rupa, maka bukan pada tempatnya
melihat dalam perspektif penting mana; teks atau karya seni rupa dalam katalog,
karena teks yang menjelaskan dan karya yang mau dihadirkan dalam pameran, semuanya
memiliki perannya sendiri dalam bangunan keutuhan apresiasi yang sehat, jujur
dan selalu terbuka akan berbagai kemungkinan.
Katalog, sejauh yang mungkin berguna bagi informasi mengenai pameran seni rupa,
idealnya memberi informasi yang benar dan memberi rujukan bagi bagi akses untuk
informasi tentang pameran itu sendiri, maupun untuk tindak apresiasi selanjutnya,
Jadi, jika katalog menghadirkan karya-karya pameran dankritikus dalam menyikapi
karya yang dipamerkan, itu sungguh ideal. Soalnya hanyalah; apakah penulis, pengamat
atau kritikus memiliki keberanian untuk secara sedikit lebih objektif dalam mewacanakan
sikapnya atas karya-karya yang menjadi subjek bahasannya; dan dalam kondisi yang
sama, apakah seniman rupa memiliki cukup keberanian hati untuk mau menerima sikap
"kejujuran" si penulis, pengamat atau kritikus dalam wacana itu?
* i wayan suardika