Made Budhiana:
The Silence of the Conflicts
by Wayan Suardika
I. Menari bersama Imaji
Imaji
adalah semesta
dalam eksistensi manusia
Betapa aku ingin menari bersamanya
Seseorang lahir bersama tangis, lalu tumbuh dan berkembang bersama realitas.
Dalam banyak kenyataan, ia seringkali hanyut dalam kondisi-kondisi umum; bermain
pada masa kanak-kanak, belajar pada masa sekolah, lalu mencari pekerjaan, merespons
sekadarnya atas riak yang terjadi di luar dirinya, memasuki gerbang perkawinan
jika tiba waktunya, selanjutnya mengikuti ritme-ritme kehidupan "orang
kebanyakan" sambil menunda atau menunggu kematian. Terlalu sedikit orang
yang berani "berjarak" dengan kehidupan; suatu keadaan di mana antara
ancaman dan harapan sungguh tak jelas bentuknya.
Bagi Made Budhiana, keadaan semacam itu disadarinya betul. Ia pun bahkan menjalani
proses sebagian dari ritme itu. Namun kesadaran sebagai manusia yang masih memiliki
dirinya sendiri mengingatkannya pada kenyataan lain, bahwa ada realitas-realitas
yang mengharuskan panggilan hatinya untuk melihat, berbuat, atau bahkan menjadi
bagian penting darinya. Untuk sanggup berbuat itu, seorang Budhiana dengan suka
hati menarik dirinya dari realitas kasat ke realitas imaji.
Ketika orang semakin beranjak dewasa, imaji acapkali lenyap, baik oleh keadaan
yang memaksa maupun karena tak lagi berguna buat menghadapi kehidupan kongkret.
Imaji seperti tersingkirkan dalam kehidupan real. Tetapi bagi Made Budhiana,
imaji dimulai justru dalam kehidupan nyata, baik sebagai pribadi dan lebih-lebih
sebagai seorang pelukis. Maka, orang boleh lahir bersama tangis, tetapi ia lahir
bersama imaji. Beginya, imaji sungguh sebuah semesta dalam eksistensi manusia.
Karena itu, Made Budhiana tak pernah berniat mengungkung imaji, yang paling
liar sekalipun. Ia tak tahan untuk tidak menari bersamanya.
Bahwa Made Budhiana melepaskan dirinya dalam dunia imaji, bukan saat ketika
ia terpaku lama di depan kanvas dengan kuas dan cat siap di tangan, bukan ketika
ia memulai kariernya sebagai pelukis dengan menempuh pendidikan di ISI Yogya,
melainkan ia telah memulainya pada masa kanak-kanak. Ia memanjakan imajinya
lewat goresan bentuk di lantai rumah, buku-buku gambar, bahkan tak segan menajamkan
imajinya dengan belajar kepada perupa yang lebih tua. Sesungguhnyalah, Made
Budhiana telah lama menari bersama imaji justru sebelum ia menjadi seperti sekarang
ini.
Imaji, yang sungguh tak terbatas itu, membuat Made Budhiana tak perlu merasa
terkungkung oleh tradisi, materi, style, teknik, warna, dan lebih-lebih pada
wacana teoritik. Dalam pengembaraan seni rupanya, ia telah lama menjadi semacam
"pemberontak" yang menafikan pakem, kesepakatan konvensional, semata-mata
karena membiarkan dirinya melepas bebas bersama imaji. Ketika periode awal masa
kepelukisannya, ia nyaris identik sebagai pelukis rerajahan, dan memang cukup
bertahan lama di sana.
Namun barang siapa yang mencermati perjalanan dunia kepelukisannya niscaya akan
mendapatkan kejutan-kejutan besar. Made Budhiana kini bukan saja mencoba melarikan
diri dari citraan yang pernah ia punyai, melainkan juga memanfaatkan setiap
"benda" sebagai bagian dari napas kepelukisannya. Kertas koran, tisu,
sandal, brosur-brosur reklame, sisa benang, adalah sah sebagai elemen estetis.
Ia pun tak merasa berdosa menyisakan ruang-ruang kosong, komposisi warna yang
tak lazim, mencari obyek lukis yang tak tematik di sembarang tempat. Karena
Made Budhiana percaya, pencarian di dunia imaji tak pernah selesai.
Kepercayaan Made Budhiana kepada imaji membuat orang tak dapat menduga kalau
tak mau disebutkan mengejutkan, ekspresi apa yang tertuang di atas kanvas atau
kertas pada periode selanjutnya dalam fase-fase perjalanan kepelukisannya. Namun
ia agaknya tak terlalu memperpanjangkan mau kemana corak, style dan teknik proses
kreatifnya. Baginya, imaji memberinya suatu pengembaraan yang menyenangkan,
tetapi sekaligus sarat konflik dan tantangan.
Bagi seorang pelukis seperti Made Budhiana, imaji bukanlah sebuah dunia, atau
sesuatu, atau keadaan, atau apapun namanya, yang mengada-ada. Realitas imaji
adalah realitas "ruh", yang dibutuhkan pertama-tama bukan sebagai
pelarian dari realitas sehari-hari, melainkan justru merespons realitas real,
yang walaupun terepresentasi lewat bentuk-bentuk abstrak di atas kanvas, namun
tetap masih memberikan dan memperlihatkan keindahannya. "Saya kira, kehidupan
ini juga memperlihatkan hal-hal yang abstrak," katanya.
Bagaimanapun, imaji bagi seorang Made Budhiana memberinya banyak ruang dan kesempatan
untuk melakukan lompatan-lomapatan kreatif, karena imaji, seperti apa yang diungkapkannya,
memberi kebebasan.
II. Pergi Bersama Intuisi
Aku pergi ke mana saja
karena aku percaya
keindahan berserak di sekitar
Made Budhiana terbilang sebagai seorang pejalan. Ini juga merupakan bagian penting
dari proses kreatifnya. Baginya, tak ada tempat yang tak menyenangkan, karena,
pergi ke suatu tempat; ke desa-desa, mendaki gunung, menyusur pantai, menghadiri
diskusi-diskusi budaya, hajatan kawin, bahkan sekadar menikmati penganan kecil
di warung di pinggir jalan, misalnya, tak pernah terabaikan dari dria dan jiwa
artistiknya. Dengan intuisinya, ia melihat benda atau keadaan dengan cara lain.
Ia percaya, ke mana pun ia pergi, maka keindahan sesungguhnya berserak di sekitar.
Dengan keyakinan itu, Made Budhiana melepaskan dirinya dari ketergantungan akan
bahan-bahan buat melukis, melepas bebas dari teknik yang monoton, juga mengabaikan
apapun tentang dirinya dari orang-orang lain. Made Budhiana lebih setia kepada
intuisi, yang menuntunnya buat "sesuatu yang lain" terhadap suatu
benda, lingkungan atau keadaan yang menungkungnya. Sepotong dahan mungkin hanya
berarti sepotong dahan buat kebayakan orang, namun dengan kekuatan intuitif,
Made Budhiana melihat itu sebagai karya alam yang mencengangkan. Demikian juga
dengan benda-benda seperti batu, kerang, yang kita kenal selama ini sebagai
benda yang amat wajar, namun lewat mata batinnya, ia "membelajarkan"
kita betapa benda-benda itu bukan sekadar batu atau kerang laut.
Sesungguhnya, jika Made Budhiana bepergian ke mana pun, ia selalu menyertai
intuisinya. Lewat tuntuntan itu, ia menuangkan berbagai obyek lukisan ke atas
kanvas. Ia tidak peduli seberapa pun buruknya tempat yang ia datangi buat melukis.
Tercatat misalnya, ia penah melukis di puncak Gunung Agung, dan daerah itu baginya
bukan keadaan yang menyulitkan, melainkan malah menggairahkan segenap kemampuan
melukisnya. Begitu pula jika ia melukis di tempat-tempat keramaian, seperti
di pinggir pasar pedesaan, perkampungan dan di pinggir jalan.
"Puncak Gunung Agung yang dingin, atau orang-orang yang mengerumuni saya
saat melukis di pedesaan, tidak membuat saya gugup," ungkap Made Budhiana.
"Kehadiran mereka justru tanpa saya sadari sanggup saya respons ke atas
kanvas. Tanpa kita sadari, ada semacam irama teatrikal dalam proses kreatif
saya, jika saya melukis di luar rumah."
Jika mencermati beberapa periode perjalanan hidup kepelukisannya, nampak sekali
betapa kesukaannya bepergian berpengaruh banyak pada style dan teknik lukisannya,
terutama jika melihat lukisan-lukisannya akhir-akhir ini. Made Budhiana, yang
pada masa-masa awal dikenal dengan warna-warna magis, ekspresi bentuk yang berat
dan filosofis, belakangan ini melakukan "loncatan karakteristik" dengan
perubahan yang menyolok. Tetapi meskipun begitu, inteligensia emosi (EQ) dan
taksu artistiknya masih membias dan sangat terasa betapa seorang Made Budhiana
masih nampak dalam garis, warna dan bentuk lukisannya.
Bepergian, ke mana pun, memberinya banyak keterhenyakan kontemplatif. Terutama
tentu saja daerah-daerah asing seperti perkampungan Aborigin, denyut kehidupan
manusia-manusia Swiss, Belanda, Jerman. Pengembaraannya ke luar negeri mengasah
intuisinya, betapa bepergian ke daerah-daerah seperti itu kian membuka imaji-imaji
yang pernah ia punyai selama ini. "Daerah Kakadu (sebuah perkampungan orang-orang
Aborigin di Australia) mencengangkan jiwa saya. Dan itu tak dapat dihindari
bahwa mereka menginspirasi pada karya-karya yang saya buat di sana," tutur
Made Budhiana saat ia memenuhi undangan sebuah museum di Darwin beberapa tahun
lalu.
Alam, bagi Made Budhiana, sungguh suatu mahakarya. Ia yang kerap melakukan penjelajahan
dan menikmati alam, sering tergagap, kadang tersentak, betapa alam seringkali
memperlihatkan apa yang tak pernah dipikirkan manusia. "Marilah kita, misalnya,
berjalan-jalan di pantai, atau di lereng-lereng gunung. Seringkali kita menemukan
batu-batu yang aneh bentuknya, dan kita tak terpikir mengapa ia serupa itu,"
seru Made Budhiana. Kebesaran alam, baginya, adalah sumber keterpanaan yang
tanpa batas.
Made Budhiana, yang sehari-hari terepresentasi seperti tanpa peristiwa, tenang
dan nyaris lebih banyak diam daripada bicara, hingga kini tetap berkeyakinan,
setiap benda, dari bendanya yang kongkret, tak beraturan hingga yang abstrak
sekalipun, mempunyai keindahannya sendiri. Bersama intuisinya, ia berkelana
ke mana saja, menikmati keindahan berserak di sekitar.
III. The Silence of the Conflicts
Selalu ada sifat yang mendasari
kehidupan manusia
antara keinginan dan kenyataan,
yang dialami dan dirasakan sebagai konflik
Apakah ketenangan benar-benar suatu keadaan yang tanpa gemuruh, sunyi, tanpa
konflik, suatu keadaan yang melepas dari peristiwa sehari-hari? Pengalaman acapkali
memperlihatkan, sesuatu tidak seperti kelihatan. Pun dengan ketenangan yang
nampak. Ketenangan sering menyimpan misterinya sendiri. Gunung yang terlihat
sunyi di kejauhan atau hutan yang begitu tenang dan dingin menjelang malam hari,
adalah kenyataan yang belum tentu seperti begitu adanya. Samar-samar kita mengerti,
ada sesuatu yang mahadahsyat di balik itu.
Bagi Made Budhiana, segala sesuatu atau keadaan yang menampakkan kesunyian sering
dirasanya sebagai kedahsyatan yang mahaluas. Ia percaya bahwa ada kekuatan di
balik ketenangan, yang pada akhirnya ketenangan itu merupakan puncak dari suatu
kekuatan. "Selalu ada sifat yang mendasari kehidupan manusia antara keinginan
dan kenyataan, yang dialami dan dirasakan sebagai konflik, yang pada puncak
keterbatasan mengakibatkan suatu pemberontakan yang akhirnya menyentak kesadaran
untuk menuju ketenangan jiwa," ungkap Made Budhiana, memaparkan konsepnya
perihal "konflik yang tenang".
Dalam merengkuh kebebasan dalam proses kreatif, konflik, baik yang imanen maupun
transendental, sering tak terhindarkan. Justru bagi Made Budhiana ini merupakan
penanda seseorang menjadi ada (to be), terutama dalam konteks proses kreatif.
Konflik dalam diri manusia, menurut Made Budhiana, sesungguhnya merupakan proses
pemanusiaan, di mana darinya dilakukan "pembongkaran" dirinya habis-habisan,
dan perwujudan pergolakan itu mungkin tervisual dalam laku awam: kemurungan,
kemarahan, ketenangan fisik, tetapi bagi Made Budhiana lebih tercuat dalam bentuk
proses kreatif.
Konflik yang diasah lewat penajaman kontemplatif, pada gilirannya akan sangat
nampak pada kematangan jiwa, dan pada gilirannya terefleksi ke dalam hasil karya.
Menurutnya, orang yang ingin "menjadi" sebaiknya jangan menghindari
konflik, karena menghindari itu berarti seseorang melakukan proses "pemunduran"
dalam mencapai pematangan jiwa. Maka, Made Budhiana membiarkan dirinya melakukan
pergulatan batin; bergumul dengan pemberontakan-pemberontakan emosi, intelektual,
ketiada penyesuaian antara yang diharapkan dengan apa yang terjadi, penolakan-penolakan
terhadap konvensi, tradisi dan melepaskan atribut akademis.
"Saya hanya kembali ke penyerahan pada diri saya sendiri. Saya ingin melakukan
apa yang menurut saya ingin saya lakukan, tanpa harus memaksakan kepada orang
lain," tutur Made Budhiana. "Berhadapan dengan konflik diri sendiri,"
tambahnya, "bukan soal kemenangan atau kekalahan, melainkan hanya soal
pencerahan pribadi. Saya teringat pada ajaran Zen, tidak ada yang lebih terhormat
dari pencerahan, tidak ada yang lebih indah dari kebajikan. Tanpa konflik batin,
orang sulit melakukan pencerahan."
Konflik bagi Made Budhiana bukan sekedar ketika ia berhadapan dengan dirinya
sendiri; berhadapan dengan imaji yang tertuang ke atas kanvas, melainkan juga
dalan interaksi antar-manusia. "Suatu proses kreatif itu, bagi saya, baru
menemukan bentuk utuhnya ketika karya-karya saya menjalin dialog dengan orang
lain," tuturnya. Karena itu, ia tak berharap apa yang diinginkan dalam
lukisan-lukisannya tidak harus selalu sama dengan apa yang diinginkan penikmatnya.
Tanpa penghargaan terhadap perbedaan, apresiasi hanyalah menjadi semacam masturbasi.
Bahwa, sulitnya penerimaan lukisan abstrak di kalangan masyarakat awam, pun
bagi Budhiana adalah semacam konflik juga. "Saya percaya itu," ungkap
Budhiana membenarkan kenyataan itu. Hanya, ia menyarankan, bahwa dalam menerima,
mengapresiasi atau menghayati lukisan-lukisan abstrak diperlukan semacam ketulusan
hati. "Tuhan sendiri pun merupakan sesuatu yang abstrak. Namun jika kita
sanggup menerima dengan jiwa yang tulus, kita akan sanggup pula menghayati keberadaan
Tuhan," tambahnya.
Lebih jauh Made Budhiana mengungkapkan, ketulusan akan penerimaan atas sesuatu
itu bukan lantas berhenti dalam pencarian. "Ketulusan itu bergerak. Ibarat
kedalaman laut, ia nampak begitu tenang, tetapi sesungguhnya ia bergerak,"
ujar Made Budhiana.
Begitulah Made Budhiana, tetap membiarkan dirinya bergulat dalam konflik, tetap
berjalan di garis kesenian yang ia yakini sepenuhnya, sambil menjalin dialog
apresiatif bukan saja kepada kalangan seniman, budayawan, konglomerat yang memborong
sejumlah lukisannya, juga kepada orang-orang pedesaan nun di pelosok-pelosok
pedesaan di Bali. Ia melukis dan melukis, kadang bersahabat dengan alam dan
mencandainya, mencari irama dalam keseimbangan, bergumul di antara keinginan
dan kenyataan, yang pada akhirnya bermuara dengan ketenangan jiwa. Setiap obyek
atau benda dalam hidup ini, baginya, adalah suatu kemurnian, keindahan dan kepolosan,
dan membiarkan semua karya-karyanya untuk tidak berbohong kepada orang lain.
[ Denpasar, 17 April 1997]