KOMPAS, Kamis,
15 Februari 2001
Seni Abstrak Made Budhiana
BALI bukan hanya wayang klasik, barong, ngaben, atau gadis bertelanjang dada.
Di dalam kanvas para pelukis, ternyata Bali juga lukisan abstrak, sebuah ungkapan
dari cara pandang modern di dalam arus besar seni rupa yang-biarpun tergerus oleh
berbagai gaya yang lebih baru-masih tetap banyak pengikutnya.
Itulah jalan yang ditempuh sejak lama oleh Made Budhiana, pelukis berdarah Bali
keluaran Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ada dugaan kuat tentang kaitan
antara Bali, yang dianggap berbakat besar di dalam olah seni, dengan perluasan
wawasan dan disiplin seni yang ditumbuhkan dalam situasi akademis. Muncullah para
jawara seni baru lewat adonan faktor-faktor utama tersebut, sebutlah seperti Gunarsa,
Wianta, sampai Erawan dan Djirna, serta generasi berikutnya.
Made Budhiana termasuk di dalam segolongan seniman baru tersebut, yang tumbuh
berdampingan dengan para seniman yang sudah kaprah menggendong "cap-Bali".
Pada karya-karyanya, seperti tampil dalam pameran tunggal di Galeri Sika, Ubud,
Bali, 17 Januari-15 Februari 2001, sulit kita mencari ikon-ikon budaya Bali.
Lihatlah Pembersihan Jiwa dengan teknik media campur di atas kanvas berukuran
140 cm x 185 cm. "Cap-Bali", yang memperlihatkan upayanya, membuat selaras
berbagai unsur garis patah dan lengkung dengan ragam sapuan warna membentuk berbagai
bidang tak beraturan.
Memang, abstraknya masih menyisakan bentuk-bentuk, yang bisa berasosiasi dengan
figur-figur yang kita kenal, atau yang hanya mungkin hidup di dalam alam khayal.
Ada bentuk mirip topeng dengan sepasang mata dan lidah memanjang, makhluk dengan
empat mata dengan lidah api, seperti lukisan tersebut.
Muncul sosok yang melihat judulnya, Amanat Hati Nurani, merupakan terjemahan dari
simbol burung garuda (Pancasila) diimbuh dua lengkungan di kepala mirip tanduk.
Pada Energi, bentuk-bentuk yang muncul tidak bisa dikatakan sebagai akibat olahan
bidang-bidang, seperti bentuk gajah yang jelas lengkap dengan belalainya. Pemilihan
latar berwana gelap untuk 16 lukisan lain (Kontemplasi, Binatang Malam, Monolog)
membuat daya tarik tersendiri.
Energinya yang besar mendorong Budhiana juga membuat karya-karya yang meruang,
dengan jejak jelas dari keterampilannya melukis. Sebut itu pada Wanita Merokok,
dengan kayu bekas lengkap dengan paku-paku melengkung yang menancap meninggalkan
perih.
Made Budhiana benar ketika menyebut abstrak sebagai "pergumulan yang tak
cepat selesai": bukan gaya, tetapi hidup itu sendiri. (efix)