
Mungkin karena prinsip kebebasan dalam berkarya yang dianutnya, gaya karya-karya Budhiana yang ditampilkan dalam acara "Ruwatan Bumi" di Taman Budaya Bali, 2-16 Mei lalu, begitu kaya ragam. Di samping ikut berpameran, lelaki gondrong yang beralamat di Jalan Veteran Denpasar ini juga bertindak sebagai kurator, merangkul 26 pelukis lainnya. Maka, apa yang terlihat pada karya-karya yang ditampilkan, bukan hanya bumi dalam pengertian hitam dan putih, bukan saja bumi sebagai geografi, tetapi juga bumi sebagai budaya.
Dari sekitar 50 karya yang dipamerkan, yang didominasi pelukis-pelukis muda - setelah era Budhiana dan Erawan, kebebasan imajinasilah yang menonjol. Ini mungkin sangat terkait dengan konsep yang dipegangnya untuk tidak meremehkan imajinasi orang. "Imajinasi sebagaimana pencerapan orang terhadap alam, amat pribadi. Dalam tahap ini orang boleh menemukan keindahan yang paling sempurna dan kebebasan tak bertepi. Intinya, imajinasi adalah ruang besar yang tak membebankan apa-apa pada seseorang," papar Budhiana.
Walaupun mengaku sangat mementingkan imajinasi, Budhiana tak mau mengabaikan kehidupan nyata. Baginya, imajinasi toh harus diturunkan agar dapat dinikmati bersama. Tak aneh bila kemudian ia menilai beberapa pelukis seperti Ketut Teler, Wayan Setem, Boping Suryadi, Ketut Tenang, Y. Djenar KE, I Made Wiraputra, Agung Mangu Putra dan Freddy Sitorus adalah pelukis muda yang bagus, berhasil memadu teknik dan imaji yang membumi, tanpa tampak seragam.
Nyata benar, dari pameran lukis ini tampak bermunculan para pelukis generasi baru yang tak kalah bagus dibanding generasi sebelumnya.
Puaskah Budhiana? Ia tak menjawabnya dengan kata, kecuali tangannya yang sibuk mencoret tanpa henti, menari-nari di atas apa saja yang disentuhnya. mengajak semua orang untuk ikut menari, melukis sebebas-bebasnya. (ita)
Bali Post, 17 Mei 1998