Budhiana:
Dunia yang Abstrak
Spirit alam adalah kebebasan.
Mereka yang tak percaya bahwa manusia dilahirkan ke dunia bersama hak untuk
hidup merdeka, rasanya perlu kembali menengok alam. Di mata alam, semua
boleh dicatat, segalanya mendapat tempat. Baik-buruk, gelap-terang,
kekerasan dan kelembutan. Semua menyatu dalam paduan harmoni hidup yang
ajaib dan mempesona. Keragaman, kontradiksi, konflik atau bahkan pertentangan,
bukan semata pertanda khaos yang carut-marut tanpa makna, sepanjang itu
dihidupi dalam koridor hakikatnya yang tak saling menaklukkan. Namun sebaliknya,
justru memperkaya dan memperdalam nuansa khazanah kemanusiaan.
Persepsi dan penafsiran terhadap denyut realitas bagi masing-masing orang
memang boleh, bahkan perlu, berbeda. Tentu saja, asalkan seperti kata pemikir
Prancis Alexis de Toqueville: My freedom begins with the recognition of
the freedom of others.
Inilah pesan penting yang tersirat dari proses kreatif seorang kawan pelukis saya, I Made Budhiana. Bagi dia, sumber penciptaan yang tak akan pernah habis digali keindahannya adalah alam - baik itu alam natural, alam benda (man-made nature), maupun masyarakat dan tradisi yang hidup didalamnya. Ia gampang tergerak oleh lingkungan di sekitarnya. Kesemuanya itu - alam, manusia dan budaya - senantiasa ditatapnya sebagai sebuah perayaan, sekaligus peristiwa estetis.
Menariknya,
dengan latar penciptaan yang realis demikian, kawan saya itu justru memilih
jalur seni lukis non-realis untuk merepresentasikan kenyataan yang terpampang
di depan matanya. Jelas, untuk itu ia punya alasan tersendiri. Menurut Budhi,
kalau diperhatikan betul, ternyata benda-benda nyata yang terserak di sekeliling
kita selalu mengandung dimensi abstrak. Ia bahkan yakin bahwa hidup itu sendiri
mestinya dilihat dalam bentuknya yang abstrak. Pasalnya, energi kreatif tidak
berpijak pada realitas fisik duniawi yang dibatasi dimensi ruang dan waktu secara
tegas, melainkan pada dunia supranatural yang memancing kreativitas pelukis
untuk menanggapinya di atas kanvas dalam wujudnya yang abstrak. Pendek kata,
abstraksi Budhi bukan datang dari konsep yang mengawang-awang di luar sejarah,
namun tetap punya bumi tempat berpijak.
Keyakinan seperti inilah yang membedakan karya Budhi dari kebanyakan pelukis abstrak yang lain. Dalam lukisan-lukisan abstraknya, realitas hidup keseharian tetap menjadi acuan utama. Yang berbeda hanya caranya dalam memilih perspektif, mempersepsi, dan akhirnya merepresentasikan realitas itu lewat tafsir imajinasi di atas kanvas.
Kerja kreatif Budhi membuktikan keyakinan
itu. Dengan pengetahuan fotografi yang dimilikinya, ia rajin menenteng
kamera kemana-mana dan membidik objek dari sudut pandang tertentu yang
unik dan boleh dibilang tidak lazim. Misalnya saja, dari jarak yang amat
dekat, sejajar permukaan tanah, atau menonjolkan kontras pernak-pernik
warna maupun gelap-terang objek. Alhasil, objek nyata yang sekilas tampak
biasa-biasa saja - bangkai ikan, misalnya - dalam foto hasil jepretan kawan
saya itu menjadi abstrak dan kehilangan bentuk fisiknya yang semula.
Objek-objek yang sudah "dimurnikan"
itulah yang kemudian ditransformasikan atas kanvas. Karenanya, tidak heran
jika lukisan abstrak Budhi seringkali masih menisakan figur-figur nyata
yang dapat teridentifikasi dengan jelas, seperti potongan wajah, mata,
awan atau jari-jari tangan.
Tanggapan Budhi terhadap realitas banyak dipengaruhi arus emosi yang bergejolak dari konflik batin yang dialaminya. Itulah sebabnya lukisan kawan saya itu selalu menghadirkan nuansa kegelisahan yang liar. Sapuan kuas yang bebas-lepas, penuh warna-warni yang kontras disertai goresan-goresan tajam, semburan dan pelototan cat dalam ritme cepat, seolah melabrak segala batasan tradisi, material, style maupun teknik dan teori lukis standar. Dalam sejumlah lukisannya, ekspresi liar Budhi tampak jelas dan teknik melukisnya yang membiarkan percikan-percikan cat meleleh sendiri, dan seakan "membebaskan" lukisan itu untuk memilih bentuknya sendiri.
Terbukti, latar belakang akademik formal ternyata tidak mampu meredam keganasan ekspresi artistik Budhi yang didukung bakat besar dan ketajaman mata batinnya dalam menangkap realitas. Ketimbang merepresentasikan aspek luar realitas di atas kanvas, Budhi langsung menerobos selubung materi, lalu masuk ke denyut jantung realitas yang selalu menggeliat dengan hangat.
Jika ditelusuri lebih dalam, karya Budhi masih kuat menembuskan vitalitas napas tradisi masyarakat Bali di tengah kedahsyatan getaran gempa modernisme saat ini. Dibandingkan periode terdahulu yang mengeksplorasi aspek magis seni gambar tradisional rerajahan Bali, karya-karyanya yang belakangan lebih bersemangat menyerap roh tradisi itu dalam pesona warna-warni yang dinamis, meriah, serta kadang terkesan seronok - bahkan carut-marut - seperti halnya ragam gerak, piranti etnik maupun musik tradisional Bali. Kendati demikian, sebagaimana maestro abstrak-ekspresionisme Amerika, Jackson Pollock, muaranya tetaplah pada "konsistensi-dalam" (inner consistency). Artinya, kontemplasi dalam sistem harmoni total yang universal dan membebaskan.